Wednesday, August 09, 2006

Semoga...

Seorang bocah duduk sendiri, kakinya yang tak begitu panjang bergerak-gerak, menendang-nendang plastik atau apapun yang melintas di dekat kaki kecil itu karena tertiup angin.

Wajahnya yang kuyu, dan pakaian yang agak kumal menutupi tubuh kecilnya, kulitnya kehitaman terkena terik matahari dan debu jalanan dari kuda-kuda besi yang melintas. Sambil ditangannya memegang sebuah gelas plastik yang sudah tak utuh bentuknya.

Bocah itu, paling banyak umurnya baru 8 tahun, tapi hari dimana dia seharusnya duduk di bangku dalam sebuah kelas dan berhadapan dengan seorang guru, saat ini di malah duduk di pinggiran trotoar dan berhadapan dengan mobil dan motor yang membuang lembah kimia seenaknya di bumi ini.

Sudah sekian tahun, bocah cilik itu selalu berada di perempatan itu untuk membantu kehidupannya dan orang tuanya, ayahnya hanyalah seorang pemulung sampah sedangkan ibunya menjadi penjaja makanan ke kampung-kampung sudut kota ini, sedangkan dia menjadi pengemis jalanan, dan adiknya menjaga adiknya yang paling kecil di rumah.

Bocah itu bukanlah anak yang tidak mau sekolah, tapi apa yang bisa diharapkannya dari kehidupan di kota yang keras ini ? untuk hidup cukup saja dibutuhkan banyak sekali pengorbanan, dia harus bangun pagi untuk membantu ibunya menyiapkan segala makanan yang akan dibawanya berjualan. Setelah itu dia harus pergi ke tempat mangkalnya, karena tempat itu akan ramai saat orang-orang kantoran berangkat bekerja, dan saat itulah kemungkinan terbesar bagi dia untuk dapat menambah penghasilan orang tuanya agar dapat digunakan untuk kehidupan mereka sekeluarga.

Bocah itu adalah salah satu potret kehidupan di kota yang keras ini, sebuah potret realitas kehidupan orang-orang yang tersisih dari kegemerlapan kota. Sebuah potret yang mau tak mau harus kita lihat dalam keseharian.

Siapakah yang bertanggung jawab dengan kondisi ini ? apakah orang tuanya, karena mereka tidak punya pengetahuan dan pendidikan yang cukup sehingga membuat keluarga mereka berada dalam kondisi seperti itu ? atau pemerintah yang tak dapat membiayai mereka yang berada dalam garis kemiskinan ? ataukah kita, manusia yang tiap hari berjumpa dengan mereka dan mengetahui dengan jelas raut wajah, tubuh dan baju yang mereka pakai ?

Mungkin sudah saatnya kita merenung tuk sekedar menepi dari rutinitas kehidupan kita ini sehingga kita bisa lebih menjadi manusia dibandingkan waktu sebelumnya….Semoga…

6 comments:

Anonymous said...

Salah siapakah ??? Ini realita potret kehidupan di kota besar...
Semoga menjadi pemikiran kita bersama... Sukses Brooo...

Theresia Maria said...

bukan salah orangtuanya karena mereka miskin, tapi kepedulian orang2 di sekitar juga akan merubah keadaan ini. walau bagaimanapun anak ini dilahirkan dari orangtua yang bekerja keras-tidak mencuri dan bukan junky. kalo pemerintah dan masyarakat yg mampu mau berupaya menampung anak2 miskin ini....ach seandainya...
*anak adalah calon generasi mendatang*

btw, met wiken yach!

Anonymous said...

Bukan salah Bunda mengandung deh pokoknya :). Kesadaran sejak dinilah yang perlu kita tanamkan, agar hal seperti ini tidak terus berkelanjutan...nice posting ;)

Sisca said...

Seorang anak tak bisa memilih orang tua, dan tak seorangpun yg ingin terlahir papa.

Tetapi Tuhan juga menciptakan orang orang yg lebih mampu untuk menolong mereka.

ompuns said...

"Mungkin sudah saatnya kita merenung tuk sekedar menepi dari rutinitas kehidupan kita ini sehingga kita bisa lebih menjadi manusia dibandingkan waktu sebelumnya….Semoga…"

---> Cukupkah hanya dgn merenung untuk mereka ???

choenhwie said...

thanks buat yang udah comment....especially for foens ....merenung tidak akan menyelesaikan masalah tapi dengan merenung (dan mencoba berpikir) semoga permasalah yang ada bisa diselesaikan dengan sebaik2nya dengan berusaha meminimalisasi semua efek yang tidak enak di belakang hari....