Monday, February 06, 2006

Janganlah kau menangis, anakku

Sudahlah...jangan menangis anakku, kenapa kepergianku harus diiringi dengan isak tangismu ? Aku sudah "bahagia" disini, meninggalkan kefanaan yang ada, meninggalkan kesedihan, kemunafikan, kenaifan, dan segala keburukan yang ada di dunia.

Apa yang kau tangisi, anakku ? bukankah tangismu itu karena engkau mengasihani dirimu sendiri, karena engkau takut tak mempunyai "pegangan" lagi saat aku sudah tak dapat menjawab semua pertanyaanmu, saat aku sudah tak dapat lagi menemanimu dalam semua kondisi yang menyedihkan hatimu, saat kau sudah tak bisa lagi mendengarkan "kicauan burung tua" yang selalu memberikan nasihat kehidupan untukmu, dan bukannya untukku ?

Anakku, bukankah kepergianku ini adalah sebuah tujuan sebuah kehidupan ? bukankah semua orang harus meninggalkan semuanya dan kembali ke Sang Pencipta, untuk mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dilakukannya ?

Anakku, janganlah kau menangisi kepergianku lagi, tataplah hari mendatang, jalanmu masih panjang, masih banyak tugas yang kamu harus selesaikan, ingatlah bahwa hidupmu bukan untuk dirimu sendiri, tapi kamu hidup untuk membuat orang lain menjadi "hidup", dan itu adalah hal yang berat anakku, janganlah engkau berputus asa karenanya, karena jika engkau berhasil melakukannya maka, bukan saja engkau membahagiakan orang itu, tapi engkau juga membahagiakan Penciptamu.

Aku bangga padamu, anakku, kau telah menjadi orang yang sesuai dengan harapanku, seorang anak yang mempunyai hati yang baik, serta mencintai orang tua dan keluarganya. Walau mungkin kau tidak mempunyai materi yang melimpah, tapi aku gembira karena kau berhasil mendidik putramu. Janganlah kau lelah untuk menemaninya, seperti aku telah menemanimu, jangan biarkan dia salah melangkah dan merusak kehidupannya, bimbinglah dia selalu, karena dia adalah rahmat terbesar yang diberikan Tuhan kepadamu.

Anakku, pesanku padamu, jalanilah kehidupan ini dengan bijaksana, janganlah kau salah melangkah dalam kehidupan ini, karena hal itu akan membuat sedih keluargamu. Janganlah kau berpaling dariNya, karena hanya kepada Dialah engkau dapat memohon untuk mendapat bantuan.
Buatlah selalu yang terbaik, untuk keluargamu, orang-orang disekitarmu dan juga untuk Tuhanmu.

"Sebuah renungan atas peristiwa yang terjadi di akhir Januari 2006 lalu"

3 comments:

nie said...

aminnnn!!! Duh... mengharubirukan hati beneran baca posting ini.

Sisca said...

Saya tak sanggup untuk berkata kata..mari kita doakan bersama saja :)

Anonymous said...

sedih pisan baca postingan di atas, ingat alm. ortu.