Friday, September 22, 2006

Semua Rasa Ini Untukmu

Semua rasa indah yang mengembang di dalam hati
kupersembahkan semuanya untukmu
sebagai suatu tanda, bahwa kuingin yang terbaik untukmu
Tak perlu kau hiraukan semuanya
biarkan semua penghalang pupus menghilang ke dasar bumi
Tak perlu sedih melihat keadaan yang ada,
karena semuanya hanyalah sementara belaka
bagaikan musim yang selalu berganti,
mengarungi lautan waktu
Nantikan matahari yang akan selalu menyinari kehidupan kita,
nantikan sang hujan yang akan selalu menyirami kehidupan kita
Percayalah pada kasih sang Khalik, sebab itu yang akan memberikan kehidupan abadi bagi kita

(sebuah rasa yang datang sekejap dari dalam hati, yang ingin dipersembahkan untuk seseorang disana yang memberikan rasa cinta dan kasih terdalam serta tulus, untuk seorang lelaki bodoh).

Wednesday, September 20, 2006

Sejenak, Kembali Ke Kotamu

esunyian itu kembali menyapaku, tak henti mengalir memasuki bagian terdalam pikiranku yang terus mengembara, terbang ke awang-awang dan tak terhenti sampai menembus suatu batas imaji yang mampu dihasilkan oleh otak kecil manusia.

Godaan itu kembali muncul, bagaikan sebuah foto yang terpotret jelas dalam ingatan, sebuah kota kecil yang damai, sebuah kota yang pernah kusinggahi beberapa waktu silam dan sempat kunikmati keindahannya. Sebuah kota yang diapit oleh pegunungan dan lautan.

Udara yang begitu menyejukkan hati, mendamaikan pikiran dan jiwa, suasana yang menebarkan aroma cinta, membuat kehidupan bagaikan sebuah air yang mengalir tanpa harus ada sesuatu yang mengganggunya. Memberikan kenikmatan yang tak terkira, sebuah candu yang ingin selalu kembali dinikmati. Aroma masakan khas yang menebar hampir di setiap sudut kota memberikan nuansa tersendiri.

Cita rasa seni tinggi yang memancar dari hasil karya sang ahli, mengasah rasa yang sudah tumpul karena aroma perkotaan yang sangat kental mengendap di dalam tiap pembuluh darah.

Kultur budaya kental yang memberikan suasana santai dan kelegaan bagi tubuh yang penat oleh segala hiruk pikuk kehidupan duniawi, sebuah budaya nrimo, yang gampang tuk terucap tapi sulit tuk dimengerti dan dilakukan.

Ingin kembali kesana walau hanya tuk menyapa segala yang ada, membasuh diri yang sudah terlalu kotor dengan asap debu dan kotoran-kotoran yang menempel di tubuh ini, menepi sejenak tuk merenungi sgala hakikat kehidupan. Ingin menikmati sgala apa yang terhirup di jiwa, sekedar mendamaikan dan melegakan pikiran dan jiwa, walau sejenak…

Friday, September 15, 2006

Terima Kasih...

Sentuhanmu menyadarkanku, dari semua lamunan yang membuat aku bagaikan sebuah arca, membisu, tanpa ekspresi.
Kau menarikku kembali tuk mendarat kembali setelah sejenak terbang ke dunia imaji. Bukan, bukan salahmu, kau sama sekali tak menggangguku, memang aku terlena dengan pikiranku sendiri, ku ingin lepas dari segala keruwetan di dunia ini, tapi itu tak mungkin, karena aku masih manusia, ya seorang manusia yang harus tetap menjalani semua jalan yang telah diatur olehNya untuk dilewati, tuk nanti akhirnya mempertanggungjawabkannya di hadapan tahta Sang Empunya Kehidupan.

Semua masalah yang aku hadapi serasa menjadi berkumpul menjadi satu dan serasa menghantam-hantam seluruh tubuhku, lelah, sakit, nyeri, semua rasa ketidak enakan itu serasa menyerang semua bagian tubuhku, tak terkecuali. Semuanya bergumul memenuhi tiap sudut otak kecilku, meminta untuk segera dikeluarkan, bagaikan lahar di gunung merapi sang terus menerus bergelegak dan menanti untuk dilontarkan keluar.

Mungkin aku yang salah, karena segala keruwetan saat ini terjadi karena masalah yang tak terselesaikan dahulu, suatu keruwetan yang kecil dan aku diamkan karena tak aku anggap mengganggu, tapi ternyata menjadi besar dan sekarang membuat segalanya menjadi sebuah bom waktu yang sebentar lagi akan meledak, meluluhlantakkan segala yang ada di sampingnya.

Terima kasih kau telah menarikku kembali ke kenyataan yang harus aku hadapi, kenyataan yang tak mengenakkan tapi harus aku selesaikan. Sebuah rasa kasih yang terpancar dari mata dan sikapmu membuatku menjadi merasa lebih kuat tuk menyelesaikan segala keruwetan ini. Rasa pengertian yang kau tunjukkan benar-benar membuat aku tabah tuk meneruskan kehidupan ini. Rasa damai yang kau siratkan membuat segalanya menjadi lebih ringan, lebih dingin tuk dicari penyelesaiannya.

Terima kasih kau telah hadir dalam kehidupanku, terima kasih kau tetap mau menemaniku di saat sulit ini, terima kasih atas pengertian, dan kasih yang tlah kau berikan, terima kasih atas cinta yang tak pernah henti.
TERIMA KASIH……

(Special for my beloved one yang selalu mendukung aku dalam semua keadaan yang aku jalani sampai saat ini)

Friday, September 08, 2006

Happy Birthday My Blog….

Photobucket - Video and Image HostingBeribu kata tlah tertuang , beratus kalimat tlah terketik dengan rapi sejuta makna tertumpah dari keseluruhan pikiran dan kedalaman jiwa
Untaian kata dan kalimat yang menceritakan kehidupan baik yang nyata ataupun khayalan semata. Tidak semuanya nyata tapi tidak juga semuanya khayalan.

Suasana gembira, sedih, hampa, dan riang jelas menyelimuti rangkaian kalimat yang tertuang.
Keinginan yang kadang timbul tenggelam laksana sebuah perahu yang selalu terombang-ambing oleh gelombang yang mendasarinya.

Usaha yang keras tuk terus berusaha mencari makna dari arti kehidupan dan apa yang terjadi di kehidupan menjadi suatu semangat tersendiri tuk terus tetap mengetikkan huruf demi huruf.

Bagaikan air sungai yang mengalir dengan eloknya, menari-nari mengikuti jalan yang harus ditempuhnya, begitupun sang pikiran menari-nari, mencari-cari kata yang sesuai tuk mencerminkan apa yang mengendap di jiwa dan berkecamuk di sang pikiran. Tak ada niat tidak baik yang ingin di berikan, hanya mengikuti keindahan hati tuk sekedar menciptakan realitas dari khayalan. Khayalan dan kenyataan berbaur menjadi satu membangun suatu alur pemikiran, menciptakan sebuah karya yang diharapkan dapat dinikmati siapa saja yang membacanya, tak perlu pintar, tak perlu berpendidikan tinggi, tak perlu kaya, dan tak perlu terlalu lama mengeraskan otak tuk mencerna semuanya.

Hati, mata dan pikiran menjadi lebih peka dengan sekitar, menandakan pembelajaran diri yang tak henti. Memang baru setahun proses ini berjalan, tapi tlah banyak hikmah yang terserap. Semoga, pembelajaran diri ini akan tetap berjalan seiring dengan perjalanan sang waktu

(SELAMAT ULANG TAHUN BLOGKU, SEMOGA KAU TETAP MEMBERIKAN PEMBELAJARAN YANG BERMAKNA UNTUKKU)

Image Copyright : Michael Jastremski

Thursday, August 31, 2006

Terima kasih, atas cintamu…

Pagi ini serasa sang raja cahya memancarkan kekuasaanya lebih lembut, selembut kehangatan yang menyapa kulit tubuhku, memberikan kesegaran dan rasa nyaman pada tubuh dan jiwa ini.

Ku teringat kemarin saat kau ungkapkan perasaanmu yang terdalam yang kau tujukkan untukku, sebuah perasaan jujur dan suci yang tlah di anugerahkan dari Sang Pencipta untuk mahluk-mahluk ciptaan-Nya.

Betapa rasa hangat, nyaman, bahagia, dan haru bercampur menjadi satu memenuhi seluruh sisi rongga hatiku, membuat pikiranku bagaikan di letakkan di lemari pendingin yang membekukan, serasa jiwa meninggalkan raga ini ‘tuk sekedar melompat meloncat dan berlari dan menari di angkasa, merayakan kebahagiaan ini, menikmati rasa yang kemudian menjalar ke tiap seluk tubuhku.

Sayang, cinta yang kauberikan kepadaku bagaikan sebuah pelukan hangat di waktu rasa dingin menyerangku, bagaikan sebuah cahaya dimana kekelaman menderaku, bagaikan sebuah oase di tengah kedahagaanku.

Kasih, terima kasih atas rasa sayang yang kau curahkan tak hentinya, rasa itu benar-benar tlah menyembuhkan segala duka yang pernah bersemayam di dalam hatiku ini, rasa sayangmu telah membuat aku merasa bahwa kehidupanku ini menjadi jauh lebih baik dengan adanya dirimu.

Tanganmu yang selalu menggenggam tanganku memberikan rasa teduh yang tak terhingga, sehingga aku merasa semakin kuat untuk menjalani kehidupan ini.
Kekasihku, masih panjang jalan yang harus kita tempuh berdua, masih banyak cobaan yang akan menyertai kehidupan cinta kita ini, tapi yakinlah selalu pada cinta kasih yang tlah bersemayam di hatiku dan hatimu, mari kita pupuk tanaman cinta yang tlah tumbuh di hati kita, jangan biarkan cinta ini mati sebelum cita-cita suci kita tercapai, berikanlah selalu kesegaran padanya sehingga menjadi berkembang dan memenuhi seluruh darah yang mengalir dalam tubuh ini.

“Bapa, terima kasih atas anugerah yang tlah kau berikan kepada kami, terima kasih karena Kau mau membantu kami menyuburkan tanaman cinta yang tlah tumbuh, kami mohon agar Kau mau membantu kami menjaganya sampai akhir hayat kami, sampai kau panggil kami ke dalam kerajaanMu. Amin.”
(Special for Sherly dan teman-teman yang telah “menemukan” cintanya)

Wednesday, August 23, 2006

Sepenggal Cerita Sedih....

Wajah mungil dan lucu itu berubah sayu, matanya yang biasanya bening dan memancarkan cahaya kegembiraan sekarang mendadak sendu bagai matahari yang tertutup awan tebal. Tanggannya yang biasanya tak berhenti bergerak sekarang tergolek bagaikan dahan patah. Bau ruangan yang tidak mengenakkan karena bercampur dengan bau obat-obatan dan pewangi lantai yang cukup menyengat. Anak kecil itu mengalami ketidaknormalan di bagian tubuhnya yang membuat dia tidak dapat beraktifitas lagi dan harus rela untuk selalu berteman dengan tempat tidur dibanding dengan anak-anak sebayanya.

Bukan, ketidaknormalan itu bukan karena ulahnya, tetapi merupakan "rencana" dari Sang Kuasa, yang tidak dapat dielakkan dan tak dapat ditolak.

Sebagai manusia yang lemah, rasa duka menjalar dalam seluruh hati, pori tubuh melebar melihat kenyataan yang terbias di mata, dan air dari dalam mata tak kuasa terbendung dan meleleh jatuh melewati setiap lekuk pipi tuk kemudian jatuh ke tanah dan hilang tak berbekas.

Anak itu tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, dia tidak tahu bahwa sebentar lagi dia akan menghadapi pembantu Sang Khalik yang bertugas untuk berusaha menyelamatkan hidupnya, dia tidak tahu bahwa sebentar lagi tubuh mungilnya akan di dera dengan pisau-pisau kecil yang tajam dan mengkilap dan siap membelah tubuhnya yang mulus dan bersih itu.

Diantara kedukaan sang kecil, ayah bundanya juga mengalami kedukaan yang tak kalah hebatnya, rasa sayang menjadi alasan utama, dimana saat pemikiran bagaimana menyelamatkan jiwa sang kecil, pemikiran lainnya mengharuskan mereka untuk mencari cara bagaimana memberikan sejumlah uang kepada rumah sakit dan dokter yang melakukan pembedahan itu, karena biaya pengobatan itu bagaikan membeli sebuah langit bagi mereka.

Tapi Sang Khalik memutuskan lain, di saat semuanya sedang terkungkung dalam pemikiran-pemikirannya sendiri, ternyata sang bocah tanpa meninggalkan pesan sesuatupun pulang ke rumah Sang Pemberi Hidup. Ya, dia pulang ke rumahnya yang abadi dimana penyakit dan segala kefanaan tak ada disana, dimana kebahagiaan menjadi santapan sehari-hari dan kedamaian selalu memeluk dengan erat.

Selesailah sebuah cerita kehidupan seorang anak manusia yang belum mengenal apa arti dosa yang belum mengerti apa yang baik dan apa yang salah.

Semoga rasa kehilangan itu tak akan lama mengendap di dalam hati pengasuh sementara sang bocah, semoga rasa sedih cepat pupus dan diganti dengan rasa pasrah, dan tawaqal kepada Sang Pemberi Hidup.

(Untuk Safitri yang tlah meninggalkan dunia fana ini, semoga Bapa di Surga memberikan tempat di sisi kananNya dan memberikan ketabahan untuk orang-orang yang ditinggalkannya)

Wednesday, August 16, 2006

MERDEKA !!!

Photobucket - Video and Image Hosting

Wednesday, August 09, 2006

Semoga...

Seorang bocah duduk sendiri, kakinya yang tak begitu panjang bergerak-gerak, menendang-nendang plastik atau apapun yang melintas di dekat kaki kecil itu karena tertiup angin.

Wajahnya yang kuyu, dan pakaian yang agak kumal menutupi tubuh kecilnya, kulitnya kehitaman terkena terik matahari dan debu jalanan dari kuda-kuda besi yang melintas. Sambil ditangannya memegang sebuah gelas plastik yang sudah tak utuh bentuknya.

Bocah itu, paling banyak umurnya baru 8 tahun, tapi hari dimana dia seharusnya duduk di bangku dalam sebuah kelas dan berhadapan dengan seorang guru, saat ini di malah duduk di pinggiran trotoar dan berhadapan dengan mobil dan motor yang membuang lembah kimia seenaknya di bumi ini.

Sudah sekian tahun, bocah cilik itu selalu berada di perempatan itu untuk membantu kehidupannya dan orang tuanya, ayahnya hanyalah seorang pemulung sampah sedangkan ibunya menjadi penjaja makanan ke kampung-kampung sudut kota ini, sedangkan dia menjadi pengemis jalanan, dan adiknya menjaga adiknya yang paling kecil di rumah.

Bocah itu bukanlah anak yang tidak mau sekolah, tapi apa yang bisa diharapkannya dari kehidupan di kota yang keras ini ? untuk hidup cukup saja dibutuhkan banyak sekali pengorbanan, dia harus bangun pagi untuk membantu ibunya menyiapkan segala makanan yang akan dibawanya berjualan. Setelah itu dia harus pergi ke tempat mangkalnya, karena tempat itu akan ramai saat orang-orang kantoran berangkat bekerja, dan saat itulah kemungkinan terbesar bagi dia untuk dapat menambah penghasilan orang tuanya agar dapat digunakan untuk kehidupan mereka sekeluarga.

Bocah itu adalah salah satu potret kehidupan di kota yang keras ini, sebuah potret realitas kehidupan orang-orang yang tersisih dari kegemerlapan kota. Sebuah potret yang mau tak mau harus kita lihat dalam keseharian.

Siapakah yang bertanggung jawab dengan kondisi ini ? apakah orang tuanya, karena mereka tidak punya pengetahuan dan pendidikan yang cukup sehingga membuat keluarga mereka berada dalam kondisi seperti itu ? atau pemerintah yang tak dapat membiayai mereka yang berada dalam garis kemiskinan ? ataukah kita, manusia yang tiap hari berjumpa dengan mereka dan mengetahui dengan jelas raut wajah, tubuh dan baju yang mereka pakai ?

Mungkin sudah saatnya kita merenung tuk sekedar menepi dari rutinitas kehidupan kita ini sehingga kita bisa lebih menjadi manusia dibandingkan waktu sebelumnya….Semoga…

Monday, August 07, 2006

Cinta, jangan pergi…


Wahai cinta, bagaimanakah kabarmu ?

Lama tak kau sentuh hatiku dengan kehangatanmu

Cinta, mengapa kau tinggalkan hati ku ?

Sehingga menjadi gelap dan dingin



Cinta,

sejak kau tinggalkan aku

Rasa dingin menjalar di relung-relung sudut hatiku

Membuat kebekuan dalam rasa



Cinta,

dengan tiadanya engkau

Benci dan amarah mulai meraja di hatiku

yang menjadi sebab kehancuran sekelilingku



Cinta,

Kau telah lihat sendiri

Karena kau tak ada, maka dunia ini penuh dengan angkara

oleh orang-orang yang kau tinggalkan



Cinta,

Kembalilah kepada kami

Hangatkan jiwa dan hati kami

Janganlah kau pergi lagi



 

Wednesday, August 02, 2006

Damai, kurindukan...

Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah gambar yang terpampang dalam sebuah situs berita, dimana gambar itu menampilkan dua orang anak perempuan kecil yang diletakkan dalam sebuah gerobak pasir tapi dengan mata meram, dan disitu tertulis bahwa anak perempuan itu adalah dua orang dari korban agresi sebuah negara kepada negara lainnya.

Apa salah anak-anak itu sehingga menjadi korban perang ? hm…korban perang ? kelihatannya akan lebih tepat jika disebut korban keegoisan, bukankah perang terjadi karena masing-masing negara dan pihak lebih mempertahankan keego-annya dibanding berpikir untuk kedamaian yang diidam-idamkan oleh orang waras yang hidup di dunia ini ?

Hanya karena masalah “kecil” (dan tentu saja kepentingan politik), manusia dapat dengan mudah mengambil jiwa manusia lainnya tanpa ada hukum yang mampu menjamahnya, mungkin sang Pencipta sendiri yang bisa menghukum mereka.

Mengapa manusia harus melakukan hal seperti ini ? bukankah mereka itu adalah orang - orang pintar ? orang - orang yang makan sekolahan ? orang - orang yang telah dibekali dengan pelajaran moral ? orang - orang yang seharusnya telah dewasa dalam segala tindakan mereka ?
Manusia-manusia itu seperti anak-anak kecil yang bisanya mengumbar nafsunya, mengumbar segala kemarahan yang ada dalam hati dan pikirannya tanpa pernah mau berpikir akan semua konsekuensi perbuatannya itu.
Buat apa ada sekolah ? buat apa ada ajaran-ajaran agama ? buat apa ada buku - buku tentang pelajaran moral jika manusia dewasa tetap melakukan semua itu ?

Apakah perlu Sang Pengadil itu turun tangan sendiri ? untuk membuat semua di dunia ini menjadi damai dan sejahtera seperti yang diinginkanNya pada saat mencipta semua ini ?

Kurindukan semua kedamaian itu, sebuah rasa yang sangat mahal untuk kondisi dunia sekarang ini, sebuah rasa yang sulit ditemukan dalam kondisi masyarakat sekarang ini, sebuah rasa yang hanya ada dalam mimpiku dan beberapa teman-temanku, akankah semua itu akan terwujud suatu hari nanti ?
Sekarang yang dapat kulakukan adalah memberikan damai pada orang-orang yang ada di sekitarku dan berharap orang-orang di sekitarku itu akan juga memberikan damainya kepada orang-orang di sekitarnya. Semoga damai ini bisa menyebar ke seluruh semesta.

Someday
When we are wiser
When the world’s older
When we have learned
I pray
Someday we may yet live
To live and let live

Someday
Life will be fairer
Need will be rarer
And greed will not pay
God speed
This bright millennium
On its way
Let it come
Someday



(OST Hunchback of NotreDame)

Tuesday, July 18, 2006

Surat kepada Sang Khalik

Sang Khalik sang empunya Bumi dan seisinya,

HambaMu ini ingin bertanya kepadaMu, mengapa Kau berikan pencobaan yang sangat berat dan tak henti-hentinya untuk ciptaanMu yang hidup di negeri yang seharusnya kaya dan makmur ini ? Apakah kami telah membuatMu sedih dan membuatMu marah ? ataukah memang ini sekedar pencobaan yang kau berikan kepada kami agar kami menjadi mahluk ciptaanMu yang semakin tegar atau apakah semua ini sebagai peringatan untuk kami agar semakin mendekatkan diri kepadaMu ?

Bencana-bencana alam yang terjadi benar-benar meruntuhkan egoisme kami, benar-benar membuat kami sedih karena kehilangan harta dan saudara-saudara yang kami cintai. Dari bencana Tsunami di Aceh, yang meluluhlantakkan segala sesuatu yang berada di Serambi Mekah, kemudian bencana kelaparan yang terjadi di beberapa daerah, gempa besar yang terjadi di daerah Jogjakarta, kota pelajar dan indah itu, harus kehilangan sebagian keindahannya, dan yang barusan terjadi, gempa yang menewaskan lebih dari 100 orang saudara kami di Pangandaran.

Kami sadar bahwa kami adalah mahluk ciptaanMu yang sangat lemah, yang hanya bisa berkuasa terhadap diri sendiri, dan tak berkuasa terhadap apapun, apalagi terhadap alam ciptaanMu yang maha besar, di bandingkan dengan segala ciptaanMu, kami ini hanyalah serpihan debu yang sedang melayang-layang dalam dunia fana, yang akan terbang ke kiri atau kanan bila ada yang angin meniupnya.

Sang Khalik, beritahukanlah kesalahan kami, jika kami memang bersalah, jangan hukum kami dengan cara seperti ini, banyak airmata dan kesedihan yang tertumpah, banyak kehilangan yang kami rasakan. Kami berharap bencana Pangandaran ini adalah cobaan terakhir yang Kau berikan kepada kami, sehingga tak ada lagi curahan air mata dari orang-orang yang masih tertinggal di dunia fana ini. Sang Khalik, maafkanlah segala hal yang membuat Kau tidak senang dengan kami, maafkanlah kami, karena kami khilaf sehingga mudah tergoda dengan semua kesenangan duniawi yang tercipta, kami lupa bahwa segala sesuatu itu hanyalah fana belaka.

Sang Khalik, sembah sujud dan puji dan rasa sesal dari hati yang kami haturkan dalam kejujuran jiwa yang paling dalam, kami hunjukkan hanya kepadaMu, semoga ini semua mampu membuat Engkau memaafkan segala kesalahan kami dan memberikan kami penghidupan yang layak dan kebahagiaan dalam kehidupan kami yang tidak akan lama lagi ini.

Sang Khalik, maafkan dan bantulah kami selalu.

Amin.

Dari hambaMU,

Penghuni negeri Indonesia

NB : Ikut Berbela Sungkawa kepada korban gempa Pangandaran

Thursday, July 13, 2006

Anakku, aku sayang padamu…(sebuah tanggapan)

Anakku,walau hidup kita serba kekurangan,

kadang kita hanya makan 1 kali sehari bahkan kadang sebungkus nasi kita makan bersama ibu dan adik-adikmu

tapi engkau tetap tak mengeluh, bahkan engkau selalu menyambut aku saat aku pulang dari kerja



Anakku, aku bahagia memiliki anak sepertimu,

walau ayahmu ini hanyalah pemulung sampah, tapi kau tetap memberikan hormat kepadaku

engkau tidak merasa malu atas pekerjaan yang aku kerjakan, bahkan engkau mau menemaniku untuk bekerja di saat

waktu libur sekolahmu



Anakku,

aku bahagia karena engkau adalah anakku,

disaat anak lain meminta dan merengek orang tuanya untuk dibelikan main,

engkau malah menjawab “tidak, ayah” saat engkau kuberikan mainan bekas yang masih bagus yang ku dapat dari tempat sampah.

Aku tahu bukannya engkau tidak mau, tapi engkau tidak mau karena mainan plastik itu akan lebih bernilai jika dijual,

karena dengan itu kita akan dapat membeli makan.

disaat anak lain tak bersemangat untuk belajar, engkau ditemani dengan lampu yang aku rasa masih kurang cukup untuk

menerangi buku yang kau baca tetap bersemangat untuk mempersiapkan masa depanmu.



Anakku, aku sayang padamu



 

Wednesday, July 05, 2006

Ayah, aku bangga padamu….

Ayah, betapa giatnya kau bekerja, seakan-akan tak mempedulikan waktu dan tenaga yang kamu miliki. Aku tahu, bahwa kita bukanlah keluarga yang berkecukupan.
Lampu penerangan di rumah kita ini hanya 5 watt dan itu pun hanya 2 buah, memang rumah kita tidak besar, tapi nyatanya cukup untuk menampung kita berlima, iya, ayah, ibu, aku dan 2 adikku.
Rumah kita hanya menggunakan dinding tripleks, tapi aku rasa cukup nyaman bagi kita untuk tinggal di dalamnya.

Ayah, aku bersyukur, walau kita dalam kondisi kekurangan, tapi kau tetap bisa menyisihkan penghasilanmu untuk membayar SPP sekolahku dan adik-adik. Aku tahu bahwa SPP ku tidak mahal, tapi bagi keluarga kita, jumlah itu tetaplah memberatkan. Aku ingat nasihatmu, bahwa pendidikan adalah yang nomer satu, karena dengan pendidikan aku akan menjadi anak yang cerdas, anak yang mampu untuk bersaing dengan anak-anak lainnya sehingga kehidupanku akan lebih baik di masa yang akan datang.

Ayah, disaat aku libur ini, aku ingin sekali menemanimu, tuk sekedar mengetahui apa yang kau kerjakan, aku ingin sekali merasakan apa yang kau telah kerjakan, mencari botol plastik dalam gunung sampah, mencari kardus-kardus bekas, menjadi buruh bangunan atau apapun pekerjaan halal yang dapat menghasilkan sedikit uang untuk mencukupi kebutuhan keluargamu.

Ayah, sekarang ku tahu betapa berat beban hidupmu, untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarga kita, dan aku bahagia karena memiliki ayah seperti mu yang bertanggung jawab terhadap keluarga, yang mau mengorbankan segalanya untuk keluargamu dan yang memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada keluargamu.

Ayah, aku bangga padamu….

Tuesday, June 27, 2006

Aku Lebih Waras

Kalian sebut aku gila, orang yang memiliki penyakit jiwa yang sepantasnya tidak hidup dalam satu lingkungan dengan kalian yang mengaku orang waras. Ya, memang aku gila dan aku menikmati kegilaanku itu, karena aku tidak mempunyai pilihan untuk tidak menjadi gila.

Memang, kadang-kadang aku berjalan dengan kepolosanku di jalanan yang penuh dengan asap debu dan polusi yang kalian tebarkan sebagai orang waras yang pintar dan mengerti tentang arti kebersihan.
Tapi, kalian cela aku karena kadang memakai pakaian yang kumal yang mungkin kalian anggap hanya cocok untuk menjadi kain pel di rumah kalian, kalian tahu apa tentang aku ? kalian yang mengaku kaya ternyata tidak mau memberi aku pakaian yang pantas aku kenakan, dan bahkan beberapa dari kalian malah memalingkan muka untuk menghindari aku, aku tau bahwa kalian bukan malu melihat kepolosanku tapi jijik melihat aku yang seperti daging busuk dalam tong sampah kalian.

Kepolosanku adalah kepolosan yang tidak aku buat-buat, bukankah manusia lahir dalam kepolosan ?
Dan aku kira tidak akan ada orang yang bangkit nafsunya dengan melihat kepolosanku kecuali mungkin orang yang memiliki penyakit seperti aku.
Setidaknya aku lebih jujur kepada kalian, daripada kalian orang waras yang kadang berlaku munafik, yang sering memakai topeng dan baju bersih untuk menjadi malaikat yang kelihatan tak bersalah untuk kemudian menyakiti dan menghina sesama kalian.

Dalam kegilaan aku menjadi orang paling waras yang hidup di bumi ini, lihatlah bahwa dunia semakin menjadi gila, anak memperkosa ibunya, bapak membunuh anaknya, istri membunuh suaminya. Aku ? seandainya aku melakukan itu karena
aku tidak sadar akan perbuatanku, ingat….bahwa aku gila seperti yang kalian bicarakan,
tapi kalian yang mengaku lebih normal dari aku, melakukan semua itu dengan “kesadaran” kalian.

Hm…ternyata aku sebagai orang gila, jauh lebih waras daripada kalian yang mengaku waras

Inspired : saat melihat orang yang tidak menggunakan sepotong kainpun di tubuhnya dan berlari-lari di jalan

Wednesday, June 14, 2006

Kembali menjadi manusia sesuai citraNya

Duduk terdiam, merasakan ketenangan yang menyusup dalam tubuh
Mencoba tuk mengurai benang-benang kehidupan
yang semakin lama semakin menjadi jaring yang melilit tubuh ini

Terbayang masa lalu yang kelam, sekelam malam yang menyapa
Tuk apa lahir di dunia ini ?
apakah hanya sekedar sebagai kafilah yang berlalu dan tak meninggalkan apa-apa ?

Untuk apa sang Khalik menghembuskan nafas kehidupan Nya ke dalam tubuh ini ?
Hidup selaras dengan citraNya, mungkinkah sanggup tuk dilaksanakan ?
Tapi bukankah itu bukan merupakan sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan yang harus dilakukan sebelum tubuh kembali menjadi debu.

Cinta kasih yang diajarakanNya tuk jadi dasar kehidupan, kadang hilang dalam hati dan pikiran
Hanya cinta kepada diri sendiri yang selalu menjadi raja dalam setiap perbuatannya
Bukankah sebaiknya manusia kembali ke hakekatnya ?
Kembali kepada hakekat yang tlah digariskan sang Pemberi Hidup untuknya

Sebagai mahluk yang paling pintar dari semua mahluk ciptaan-Nya
tetapi tidak menggunakannya untuk membodohi manusia lainnya
Sebagai mahluk yang paling bermoral diantara mahluk lainnya
tapi tidak menjelekkan dan merusak moral manusia lainnya
Sebagai mahluk yang mempunyai perasaan dan cinta yang paling besar diantara mahluk lainnya
tapi tidak mengatasnamakan cinta untuk semua hal yang dilakukannya


Allah, jadikan aku manusia seutuhnya, yang selalu mendengarkan ajaranMu
dan menjadi mahluk yang sesuai dengan citraMu serta menjadi manusia yang penuh kasih tanpa mementingkan diri sendiri

Tuesday, May 30, 2006

Saudaraku….

Mataku tiba-tiba tertatap tajam
melihat text yang berjalan di bagian bawah televisiku
Jantungku serasa berhenti berdetak
namun setelah itu berdegup dengan sangat kencang

Kota indah itu tlah porak-poranda,
bukan…bukan karena ulah manusia,
tapi karena alam yang menggeliat
ya karena geliatan alam

Dinding itu meretak…atap-atap dan isi rumah berjatuhan
saudara-saudaraku yang masih beristirahat dengan tenangnya
tiba-tiba harus berloncatan terbangun
dan lari keluar dari peraduannya

Kasihan kaki-kaki kecil itu,
mereka harus mengikuti langkah orang tuanya untuk menghindarkan diri
kasihan kaki-kaki rapuh itu,
yang terhuyung-huyung untuk sekedar mencari tempat yang aman

Tapi…
ribuan saudara harus berpulang
puluhan ribu terluka
tak sempat tuk menghindar

Suara tangis dan jeritan perih terdengar
sebagai penghilang ngilu dan sakit karena luka menganga di tubuh
sebagai pengungkap kesedihan karena terpisah dari orang-orang tercinta
sebagai pengungkap rasa sebagai manusia lemah tak berdaya

Suatu pemandangan yang membuat mata berkaca-kaca dan hati tercabik-cabik
tapi disini, ribuan kilo dari sana ku berada,
hanya sebuah doa dan sedikit bantuan yang dapat ku berikan
semoga bisa mengurangi sedikit penderitaan yang terasa disana


Untuk saudara-saudaraku di Jogja, semoga diberi kekuatan dan ketabahan untuk menerima segala kondisi yang ada.

original post : 29 Mei 2006

Tuesday, May 23, 2006

Aku, Lelaki ...

Kelu lidahku, tak sanggupku mengatakannya...
Otakku terasa membeku, tak lagi mampu tuk berpikir
Tuk menyatakan segalanya untukmu

Aku bukan lelaki romantis, yang bisa menyatakan perasaan hatinya dengan terbuka
Aku bukan lelaki yang pintar merayu, yang biasa merangkai kata-kata indah
Aku bukan lelaki yang dapat membuat engkau merasa melayang di awang-awang
Aku bukan lelaki yang bisa memberikan segala kebutuhan hidupmu

Tapi, aku adalah lelaki yang akan menyayangimu, sampai jiwa meninggalkan raga
Dan aku adalah lelaki yang akan berusaha melindungimu dari segala kebusukan dunia
Dan aku adalah lelaki yang akan berusaha membahagiakanmu dalam usia hidupmu
Dan aku adalah lelaki yang akan mencintaimu dengan segala yang aku miliki

original posted : 19 Mei 2006

Keputusan

Seorang anak kecil, sambil berjalan terseok-seok, di tengah teriknya matahari yang sedang memancarkan kekuatannya sekaligus kasihnya ke bumi ini.
Dia, membawa sebuah gelas plastik bekas, mengasongkannya kepada setiap pengendara motor dan mobil yang berhenti di perempatan jalan sambil menunggu lampu hijau.
Anak itu tidak sendiri tapi bersama beberapa temannya, dan hebatnya lagi, mereka seperti punya perjanjian mana 'bagian' mereka untuk dimintai dan mana 'bagian' temannya.
Aku yang juga sedang berhenti, memperhatikan mereka, dan salah satu anak itu mendekati ku sambil mengasongkan gelas bekas itu yang sudah berisi beberapa keping uang.
Dia tidak berbicara hanya matanya yang memandangku, dengan tatapan yang memelas...
Aku menggoyang-goyangkan tanganku, sambil berkata 'lainnya saja...'
Setelah lampu menjadi hijau, aku menjalankan motorku lambat-lambat. Di pikiranku masih tergambar dengan jelas, tatapan matanya, tatapan mata yang meminta untuk dikasihani....
Apakah keputusanku untuk tidak memberikan 'sedikit' uang kepada mereka sudah benar ?

Sekilas pikiranku teringat sebuah berita di tv yang menceritakan kehidupan mereka, dimana mereka hanya dipergunakan oleh seseorang untuk mencari uang, anak-anak itu dijadikan 'sales' mereka untuk mendapatkan kekayaan. Sungguh biadab memang kedengarannya, tapi itulah kehidupan dunia, yang kuat yang akan memang.
Bagiku memberi mereka uang yang sebenarnya untuk membantu mereka, tapi malah membantu para 'bosnya' untuk menjadi semakin kaya, ya walau yang aku beri juga tidak akan terlalu besar, tapi sama saja judulnya tetap membantu si bos, bukan membantu si bocah.
Tapi bagaimana, jika si bocah memang bekerja untuk dirinya sendiri, alias dia memang meminta-minta untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan bukan untuk organisasi atau genk atau bos, seperti yang aku pikirkan ? jika semacam itu, berarti aku bersalah karena tidak membantunya.....
Pemikiran itu terus menerus berulang, dan sampai sekarang akupun tidak menemukan jawabannya, karena aku tak tahu mana yang benar, ini bukan masalah hati nurani atau bukan, karena hati nurani pasti akan mengatakan untuk memberi sedangkan otak sebagai tools penimbangnya, tetapi tetap harus diambil keputusan apakah akan memberi atau tidak.
Karena keputusan adalah sebuah keputusan, kita tidak tau efeknya sampai suatu waktu yang akan datang.

original posted : 16 Mei 2006

Seorang anak kecil, sambil berjalan terseok-seok, di tengah teriknya matahari yang sedang memancarkan kekuatannya sekaligus kasihnya ke bumi ini.
Dia, membawa sebuah gelas plastik bekas, mengasongkannya kepada setiap pengendara motor dan mobil yang berhenti di perempatan jalan sambil menunggu lampu hijau.
Anak itu tidak sendiri tapi bersama beberapa temannya, dan hebatnya lagi, mereka seperti punya perjanjian mana 'bagian' mereka untuk dimintai dan mana 'bagian' temannya.
Aku yang juga sedang berhenti, memperhatikan mereka, dan salah satu anak itu mendekati ku sambil mengasongkan gelas bekas itu yang sudah berisi beberapa keping uang.
Dia tidak berbicara hanya matanya yang memandangku, dengan tatapan yang memelas...
Aku menggoyang-goyangkan tanganku, sambil berkata 'lainnya saja...'
Setelah lampu menjadi hijau, aku menjalankan motorku lambat-lambat. Di pikiranku masih tergambar dengan jelas, tatapan matanya, tatapan mata yang meminta untuk dikasihani....
Apakah keputusanku untuk tidak memberikan 'sedikit' uang kepada mereka sudah benar ?

Sekilas pikiranku teringat sebuah berita di tv yang menceritakan kehidupan mereka, dimana mereka hanya dipergunakan oleh seseorang untuk mencari uang, anak-anak itu dijadikan 'sales' mereka untuk mendapatkan kekayaan. Sungguh biadab memang kedengarannya, tapi itulah kehidupan dunia, yang kuat yang akan memang.
Bagiku memberi mereka uang yang sebenarnya untuk membantu mereka, tapi malah membantu para 'bosnya' untuk menjadi semakin kaya, ya walau yang aku beri juga tidak akan terlalu besar, tapi sama saja judulnya tetap membantu si bos, bukan membantu si bocah.
Tapi bagaimana, jika si bocah memang bekerja untuk dirinya sendiri, alias dia memang meminta-minta untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan bukan untuk organisasi atau genk atau bos, seperti yang aku pikirkan ? jika semacam itu, berarti aku bersalah karena tidak membantunya.....
Pemikiran itu terus menerus berulang, dan sampai sekarang akupun tidak menemukan jawabannya, karena aku tak tahu mana yang benar, ini bukan masalah hati nurani atau bukan, karena hati nurani pasti akan mengatakan untuk memberi sedangkan otak sebagai tools penimbangnya, tetapi tetap harus diambil keputusan apakah akan memberi atau tidak.
Karena keputusan adalah sebuah keputusan, kita tidak tau efeknya sampai suatu waktu yang akan datang.

original posted : 16 Mei 2006

Tuesday, May 09, 2006

Aku lakukan untuk kalian semua

Tidak, aku tidak jahat kepada kalian
Aku sudah memberitahu kapan aku akan mengeluarkan isi perutku
Sehingga kalian bisa bersiap-siap
Tapi, kadang kalian merasa egois
Kalian lebih menyayangkan harta benda kalian dibanding dengan jiwa kalian sendiri
Saat ada saudaramu yang memintamu untuk pindah sementara di tempat yang aman
kalian dengan keras kepala menolaknya.
Aku tahu bahwa kalian hidup nyaman bersamaku selama beberapa waktu ini
tapi memang sudah waktunya aku mengeluarkannya
bukan semata-mata untukku sendiri
tapi ini juga untuk kebutuhan kalian,
tahukah kalian bahwa setelah laharku dingin dan membeku
dapat kalian tanami dengan tanaman, dan apakah kalian tahu,
bahwa kesuburannya akan jauh melebihi kesuburan tanah yang kamu miliki sekarang ?

Tidak, aku tidak egois
aku melakukan ini semua untuk kalian, untuk bumi ini juga
untuk kehidupan kalian, agar kalian lebih makmur.

Aku menyayangi kalian, seperti aku menyayangi bumi ini, karena aku adalah bagian dari semesta alam ini, karena aku adalah Merapi.