Friday, February 16, 2007

Pak Tua, Sebuah Pelajaran...

Seorang lelaki tua bertelanjang dada, berkulit gelap mungkin karena sudah lama terkena panas matahari yang selalu menyengat, dengan rambut yang sudah memutih, duduk di trotoar di sudut jalan yang ramai, ditemani oleh 2 batang bambu dan sebuah plastik putih yang berada diatas kepalanya, mungkin tuk sekedar menahan panas dan air hujan yang mungkin mengguyurnya, banyak orang berlalu lalang, tak sedikit motor dan mobil yang melintas, tapi tak ada seorangpun yang berhenti, bagi mereka mungkin hal tersebut sudah biasa.

Tak ada sinar kehidupan pada matanya yang sayu, dikelilingi oleh kulit yang sudah meng-eriput termakan oleh sang waktu, punggungnya yang sedikit melengkung kedepan mungkin karena sudah terlalu lama dia duduk dan berdiam di situ. Apakah dia tidak merasa udara dingin yang menyerang saat malam menjelang atau saat sang dewa hujan mencurahkan airnya dan udara dingin ke bumi ini ? Tak terlihat keinginannya untuk mencari tempat yang lebih hangat

Tak tampak istri maupun anak-anaknya, apakah dia memang tidak mempunyai anak dan istri ? apkaha dia sudah hidup sebatang kara di dunia ini dan hanya menunggu sang malaikat maut menjatuhkan tangan kepadanya ? seperti itukah nasib seorang tua miskin yang tidak mempunyai anak istri, sehingga untuk hidupnyapun harus mengiba kepada orang lain ? apakah dia salah jika dia tidak mempunyai tabungan yang cukup untuk hari tuanya ?

Apakah dia memang tidak mempunyai saudara di dunia ini ? ataukah memang tak ada satupun sanak-saudaranya yang mau mengakuinya sebagai saudara ? Apakah tak ada satupun yang menaruh rasa iba dan memberikan makanan ataupun pakaian padanya ? jikapun ada apakah cukup untuk menyambung kehidupannya dari hari-ke hari ?

Masih segar dalam ingatan saat sang guru mengajarkan kepada para muridnya bahwa fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara, apakah itu masih berlaku dengan kondisi yang seperti ini ? mungkin tidak, tapi apakah yang berwenang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab moral untuk melakukan sesuatu ? mungkin salah untuk berpikir seperti ini, tapi salah siapakah semua ini sehingga kondisi seperti itu terjadi ? salahkah orang-orang yang berlalu lalang di depan laki-laki itu tanpa berbuat sesuatu ? atau salahkah yang berwenang karena tidak mampu memelihara para anak dan fakir miskin itu ? mungkin satu-satunya yang bisa jelas dipersalahkan adalah lelaki tua itu, dia salah karena tak punya anak-istri yang bisa merawatnya di hari tua, dia salah karena tidak mempunyai saudara ataupun siapapun untuk bisa dianggap saudara, dia salah karena tidak mempunyai pekerjaan yang bisa memberikan dana pensiun kepadanya seumur hidupnya, dia salah karena tidak mau menabung disaat dia masih menghasilkan dan mampu menabung, benarkah demikian ?

Bagiku, bapak tua itu memberikan pelajaran yang sangat berarti bahwa hidup ini adalah suatu perjuangan dan bukan perjalanan biasa, sebuah perjuangan yang membutuhkan perasan keringat yang tak terhitung, bahwa tidak akan ada orang yang bertanggung jawab dengan kondisi dan kehidupan kita selain diri kita sendiri, tak ada yang bisa diharapkan jika kita tidak mengharapkan pada diri kita sendiri, tak ada perjuangan jika kita tidak berjuang sendiri.


Inspired : oleh seorang lelaki tua yang selalu duduk di sudut jalan

Tuesday, February 13, 2007

Sayang, Kuberikan Untukmu

Ingin ku memelukmu lembut, dan membawamu kedalam dekapanku.
Ingin ku berikan kehangatan tubuhku, untuk sedikit menepis rasa dingin yang menyerang tubuhmu.
Ingin ku berikan ketenangan hatiku untuk sekedar mendamaikan kegundahan yang mengendap dalam hatimu.
Ingin ku berada di sisimu tuk membantumu dari setiap kesusahan yang menghadangmu
Ingin ku membelaimu tubuhmu, menyalurkan kasih sayang dan cinta di hati ini untukmu

Sayang, aku akan selalu memberikan yang terbaik untukmu, walau mungkin tak terucap lewat kata, tapi semoga tulisan ini akan dapat menjawab semua keraguanmu padaku.

Happy Valentine Day, Darling


nb: buat semua temen2 yang merayakan, happy valentine juga semoga tumbuhan cinta di hati kita akan berbunga.

Thursday, January 25, 2007

Si Miskin Tidak Boleh Sakit ?

Sebuah spanduk besar yang direntangkan oleh sebuah parpol berisi kira-kira "Apakah Si Miskin Tidak Boleh Sakit (di Jakarta) ?" mengusik alam pikiranku.
Heii.....apakah ada seorangpun di dunia ini yang tidak mempunyai hak untuk sakit ? apakah ada orang di dunia ini yang bisa hidup sehat terus dari lahir sampai kembali kepelukan sang Khalik ? ada ?
Dan siapa orangnya yang mempunyai hak untuk melarang orang lain untuk sakit ? bukankah sakit itu manusiawi sekali, dan bahkan bukan manusia saja yang "harus" sakit, tetapi hewan, tumbuhan juga akan mengalami yang namanya sakit, so kenapa orang yang bertitle "si miskin" sampai tidak diperbolehkan untuk sakit ?

Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, jika kita lihat kondisi saat ini terutama di kota-kota besar, dimana semua kebutuhan dasar sebagai sebuah bangsa dan manusia (tentu saja) semakin sulit dijangkau oleh orang-orang yang kurang beruntung, orang-orang yang hanya memiliki dan mendapat sedikit uang walau sudah bekerja dari pagi sampai pagi lagi, adil ? mungkin ? karena pasti seseorang yang diberi pertanyaan seperti itu mempunyai berjuta-juta justifikasi untuk memberikan jawabannya.

Dengan biaya pengobatan yang bisa dibilang sangat sangat tinggi seorang miskin akan sangat sulit "menikmati" fasilitas dari rumah sakit, jangan pernah berpikir untuk berobat di rumah sakit swasta, untuk berobat di rumah sakit negara atau puskesmas yang nota bene seharusnya masih mempunyai "keringanan" dengan adanya bantuan dari pemerintah dengan bermacam-macam programnya pun kadang merupakan barang mewah bagi si miskin. Dan apa yang terjadi jika mereka memaksa untuk berobat kesana ? hanya kecuekan dari staf-staf yang ada disana yang akan mereka rasakan, ya...mereka bagaikan sebuah sekumpulan sampah, yang tak perlu dilirik bahkan bila bisa dijauhkan dari lingkungan.
Dosa apakah mereka ? aku pikir bukan salah mereka berada dalam kondisi seperti itu, miskin bukanlah sebuah pilihan bagi manusia siapapun. Dan pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana nasih mereka dengan kenyataan bahwa mereka adalah orang miskin ? apakah kemudian mereka kehilangan hak-hak mereka bila mereka miskin ? jika jawabannya adalah "ya", maka berbahagialah orang "kaya", dan nikmatilah kekayaanmu selagi sempat, karena mungkin saja engkau akan menjadi orang miskin dan itu berarti engkau akan kehilangan semua hak-hakmu.

Wednesday, January 17, 2007

Kasih, Hadapilah Semuanya...

Kasih, jangan terlalu kau paksakan segala sesuatunya, biarkan semua itu mengalir seperti adanya. Di saat masa pengenalan kita yang masih bagaikan seorang bayi yang mulai merangkak, jangan bebankan sesuatu yang lebih berat, karena pada akhirnya tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik adanya.

Aku tahu, umur kita sudah tak bisa dikatakan muda, tetapi itu bukan suatu alasan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat bukan ? siapapun membutuhkan waktu, untuk mengerti dan memahami satu sama lain, karena disitulah tujuan dari proses ini, kita diciptakan unik olehNya dan kita harus berusaha menyamakan apa yang ada di dalam pemikiran kita terhadap pasangan kita. Dan aku yakin kita sudah berada di jalan yang benar.
Ingatkah kau akan sebuah nasihat, bahwa segala sesuatu yang dimulai dan di proses dengan tergesa-gesa tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik ? aku tahu situasi ini memang tak mengenakkan dan bukan keinginan kita, tapi situasi ini harus kita hadapi.

Sayang, aku tidak menyalahkanmu atas segala yang terjadi saat ini, situasi ini, bagi aku merupakan situasi dari konsekuensi yang harus kita terima, dan aku menerima semuanya bukan sebagai beban melainkan sebagai sebuah tantangan untuk membuktikan kesungguhan kita atas komitmen yang sudah kita buat dan kita perjuangkan bersama. Aku harap, engkau juga melakukan hal yang sama seperti diriku, janganlah engkau mundur, janganlah engkau menyerah, janganlah engkau putus asa karenanya.

Cinta, tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, hanya sikap tegar dan pasrah padaNya saja yang kita bisa lakukan, karena kita bukanlah Sang Pengatur, kita hanyalah serdadu-serdadu mungil di dalam lingkaran kehidupan ini. Semoga Sang Kuasa memberikan berkat kasihNya sehingga perjuangan kita ini dapat mencapai hasil sesuai dengan yang kita impikan bersama.

(untuk teman-temanku yang sedang berjuang untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu, teruslah berjuang karena tidak akan ada rasa sesal walau kegagalan menyapa jika kita memang sudah berjuang dengan sepenuh tenaga)

Sunday, January 07, 2007

Doa kami kepadaMu

Allah yang Illahi, terima kasih atas berkat dan tuntunan yang telah Kau berikan, karena dengan itu semua, kami semua dapat menyongsong sang fajar di tahun baru ini dengan hati yang lapang, dengan semangat yang menyala dan dengan kepercayaan bahwa Kau akan selalu mendampingi kami semua.

Allah pengatur alam semesta, di awal tahun ini Kau tlah berikan kami banyak cobaan, banyak kejadian tak menyenangkan terjadi di awal tahun ini. Kejadian yang menyebabkan ribuan tetes mata membasahi setiap jengkal tanah yang kami injak, mengoyak hati kami yang sedang dipeluk oleh kebahagiaan sesaat karena bisa menikmati keindahan fajar di tahun yang baru ini.

Allah yang maha mengetahui segalanya, tunjukkan kepada kami, berikan kami tuntunanMu, berikan kami arah untuk menemukan keluarga, saudara kami, yang saat ini masih belum ditemukan, entah dimana. Allah yang maha kasih, segera tuntaskan kesedihan kami, segera hapus sisa-sisa ketidak pastian di hati dan pikiran kami, karena dengan mengetahui keadaan keluarga dan saudara kami, akan membuat kami merasa lebih lega, akan membuat kami mempunyai kepastian walau mungkin kenyataan yang kami terima sangat menyedihkan, tetapi kami sudah berusaha menyiapkan diri untuk menerima segalanya, Allah berikan kami kekuatan agar kami bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, karena aku tahu bukan kehendak kami yang terjadi tetapi kehendakMu lah yang akan terjadi.

Allah sumber segala kasih, curahkan kasihMu, berikan kekuatan kepada kami untuk menerima segala sesuatu yang terjadi pada diri kami, dan juga berikan perlindunganMu agar kami dijauhkan dari segala kejahatan di dunia ini. Allah jagalah kami selalu.

Amin

Nb : kepada semua keluarga korban hilangnya pesawat Adam Air yang masih belum diketemukan sampai saat ini, semoga Allah memberikan kekuatan untuk menerima situasi ini. Dan semoga situasi tak menentu ini cepat berakhir dan kepastian akan datang menjelang.

Saturday, December 23, 2006

Saturday, December 16, 2006

Si Gila, Maafkan Aku …

Si gila, maafkan aku, yang tak menduga hal seperti itu bakal terjadi, yang dapat aku lakukan hanyalah meminta maaf kepadamu, karena saat kau hadir di lingkungan sini, aku hanya berpangku tangan, aku hanya melihatmu sebagai si gila, seseorang yang tidak waras otaknya, yang berjalan hilir mudik tanpa tujuan dan keinginan. Keberadaanmu bagiku hanyalah sebuah intermezzo kehidupan di lingkunganku ini, mungkin kadang aku menertawakan tingkahmu yang lucu, ya kuanggap engkau lucu, kadang aku takut kepadamu karena engkau dengan kegilaanmu memberikan rasa takut kepadaku, kadang aku marah kepadamu karena ketidakwarasanmu itu membuat segala hal yang kau lakukan tidak menggunakan otak sama sekali.

Si gila, disaat engkau mengalami kehamilan yang aku sendiri tak tahu bagi aku, kondisi mu itu adalah kondisi orang normal, aku tidak terganggu dengan semua itu. Aku melihat semua itu dengan pandangan mata orang yang biasa melihat keburukan yang terjadi di lingkunganku, tak ada rasa iba yang menyentuh nuraniku, tak ada rasa kaget yang menyerang otakku, mungkin aku sudah kebal dengan semua itu atau aku sudah bosan melihat segala kebobrokan yang terjadi sekitarku ? Aku tidak peduli apakah engkau sudah menikah atau belum, apakah kau diperkosa atau tidak tak ada niatan mencari tahu siapa bapak dari anakmu itu, aku acuh saja melihatnya, toch itu tidak mengganggu kehidupanku, itu yang ada di pikiranku.

Disaat engkau masuk dalam suatu berita di TV, aku baru sadar bahwa aku melakukan kekeliruan yang begitu besar, salah satu kekeliruan terbesar yang pernah aku lakukan dalam sepanjang kehidupanku, sebuah kesalahan yang menghilangkan seorang bayi tak berdosa, ya…engkau si gila memakan anak yang kau lahirkan sendiri, apakah kau salah ? banyak orang mengganggap demikian menurut aku, aku yang salah, pada saat hari-hari terakhir menjelang engkau melahirkan, aku masih dalam kondisi tak acuh melihat kondisimu padahal dari awal aku tahu bahwa engkau tidak waras, engkau bukan orang normal yang dapat berpikiran seperti orang normal dan aku tidak peduli dengan keadaanmu itu. Si gila, sekarang aku merasa aku berdosa kepadamu, karena aku adalah orang normal yang lebih gila dari dirimu, seorang normal yang lebih tak waras dari orang gila, ya aku gila dengan keacuhanku, aku tak waras karena sifat egoku. Si gila, maafkan aku…


 

Inspired by : sebuah kisah nyata yang terjadi beberapa waktu lalu

Friday, December 08, 2006

Suara Yang Kembali Terdengar...

Beberapa waktu, melakukan kristalisasi diri, tidak menghilang, hanya sekedar menepi, mencoba mencari kejernihan dari hati dan jiwa, bukan tuk menjadi seorang yang suci, orang yang hidupnya tanpa dosa, melainkan mencoba mencari apa yang seharusnya dicari dari awal mula diciptakan di dunia fana ini, bukan perkara yang mudah tapi bukan juga perkara yang sulit, dan sang waktu ikut berperan di dalamnya. Bagaikan sebuah kepompong yang mencoba menjadi suatu bentuk kehidupan yang lebih baik dan sempurna serta lebih berguna untuk kehidupan lain di sekitarnya.

Banyak kejadian yang terjadi, dan tak tuli telinga, hasrat ingin berteriak, berbicara, ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan di dalam hati dan pikiran saja, karena terpikir belumlah saatnya.
Lautan kehidupan yang bergejolak, bagaikan ombak yang terus menerus menerjang bibir pantai tak peduli sang surya atau sang purnama yang bertahta, tak peduli apakah kedamaian atau kekacauan yang terjadi di alam sang ombak tetap menyapa bibir pantai dengan mesranya.

Tak terasa jejaring waktu mulai melilit tubuh, bayu yang menyilir kulit telah memberikan kesegaran dan memberikan keleluasaan bagi butiran merah dalam tubuh tuk mengalir melalui pipa-pipa kecil di dalam tubuh rapuh ini. Walau sedikit dan perlahan, kegelapan yang menyelimuti mulai dikuak oleh sang cahya, apakah sang cahya itu yang akan menuntun tuk mendapatkan jalan yang diinginkan ? hanya sang waktu dan Khalik yang bisa menjawabnya.

Ketika keinginan tuk kembali melukiskan keinginan hati dan pikiran dengan kata-kata membuncah, diri mulai tak sanggup untuk melawannya, apakah ini saatnya untuk melepaskan kepompong ? aku tak tahu, dan mungkin tak ada yang tahu sampai sang pengelana waktu ini mencapai suatu titik.

Terima kasih untuk sang permaisuri dan sang pangeran, yang selalu menjaga dengan penuh sayang dan memberikan keteduhan dan kesegaran karena tak mungkin tubuh rapuh ini melakukan semuanya sendiri. Terima kasih pula, kepada alam yang telah memberikan pengajarannya dan pengalaman yang tak dapat dinilai dengan satuan uang manapun di dunia ini, dan juga kepada para sahabat yang dengan sabar trus menyapa di saat semua kekeluan dan kebekuan melingkup diri, dan terutama sang Khalik yang telah melengkapi tubuh rapuh ini dengan akal budi serta hasrat dan pikiran di dalamnya, semoga hamba hina ini tetap mendapat tuntutunan dalam mengarungi perjalanan yang tak tahu sampai dimana akhirnya.

Wednesday, November 01, 2006

Jangan Kau Sombong...

Hai, teman kenapa kau ucapkan terus kata-kata itu ? aku tahu keadaanmu, dan aku tidak terusik karenanya, aku senang dengan dirimu bukan karena keadaanmu.
Aku...walau bukan orang yang memiliki kelimpahan materi tapi lebih dari cukup untuk hidup, tidak pernah mengatakan bahwa aku kaya, tapi kenapa koq selalu mengatakan kepadaku bahwa kau miskin ? apakah kau bangga dengan kemiskinanmu ? atau kau sengaja menarik empati orang lain atau sahabatmu untuk menjatuhkan iba padamu ?
Kemiskinan itu bagi aku adalah hanya sebuah prioritas, tinggal bagaimana orang itu menyikapinya, banyak orang yang kaya harta tapi miskin kasih sayang, karena orang itu menganggap materi lebih penting daripada kasih sayang sehingga ia lebih memilih untuk mencari materi yang banyak dibanding dengan kasih sayang yang bisa ia dapat dengan gratis dan murah. Jika ia memang menginginkan kasih sayang, maka jalan satu-satunya adalah berkonsentasi untuk mendapatkan kasih sayang itu, dan secara tidak langsung mengurangi sedikit prioritas (dan konsentrasinya) untuk mendapatkan materi. Jika kau miskin karena ketidak mampuan dari dalam dirimu, (hm...memang ada orang yang tidak mampu ? aku lebih percaya kalo itu karena KETIDAK MAU-AN dan bukan KETIDAK MAMPU-AN), aku pikir banyak cara agar engkau bisa meminimalisir ketidak mampuan itu bukan ?
Teman, kau memang tidak bermaksud untuk sombong, tapi dengan mengatakan bahwa kau miskin kepada setiap orang dan hampir sepanjang waktu, itu sama saja artinya dengan engkau berbangga kepada kemiskinanmu itu, dan orang yang berbangga terhadap sesuatu dengan berlebih-lebihan adalah kesombongan, menurutku.

Teman, janganlah kau sombong karena kekayaan, tetapi akan lebih menyakitkan apabila kau sombong dengan kemiskinanmu.

Monday, October 30, 2006

Aku Tak Dapat Melihat...

Aku tak dapat melihat, aku buta...indera penglihatanku yang dari dulu aku andalkan ternyata sekarang mengkhianatiku, dia tertidur dan tak mau bangun kembali.
Tapi apakah hidupku kemudian berhenti karenanya ? tidak, hidupku tak berhenti sampai disini, Sang Khalik masih menginginkanku untuk menerima segala tantangan kehidupan di dunia ini.

Aku harus belajar untuk menghadapi semuanya, aku harus belajar melihat semuanya tidak dengan mataku tapi dengan hatiku, dengan perasaanku, dengan sentuhan kulitku, dengan pendengaranku, dengan penciumanku. Aku harus belajar untuk kehilangan keindahan yang tertangkap oleh indera penglihatanku dan harus aku ganti dengan gambar yang ditangkap dari mata hatiku.

Aku harus bisa mandiri, aku harus bisa melakukan semuanya dengan segala keterbatasanku ini, di dunia yang keras ini, aku tidak pernah mengharapkan kalian akan membantuku, aku tidak pernah berharap bahwa kalian akan memberikan bimbingan kepadaku, aku harus belajar untuk melakukannya sendiri.

Mungkin aku memang buta, tapi aku yakin aku bisa melakukan segala sesuatunya tanpa campur tangan kalian, tanpa bantuan kalian, tanpa bimbingan kalian, bukan karena aku sombong, tapi bukankah kalian bukan orang yang senang di repotkan oleh seorang cacat seperti aku ? Aku tahu tidak semua dari kalian setuju, tapi berapa banyak ? apalagi di kota besar seperti ini, aku adalah aku, dan kamu tidak ada urusannya dengan aku, bukankah begitu teman ?

Aku tidak akan merepotkan kalian dan tolong jangan kalian hina aku, aku juga manusia biasa, seperti kalian, aku juga punya perasaan, walaupun mungkin aku bisa lebih sabar dari kalian karena aku sudah merasakan pahitnya kehidupan lebih pahit dari kalian, tapi kesabaranku juga ada batasnya.

Apakah kalian sadar bahwa bahwa apa yang kalian lihat dengan indera penglihatan kalian itu sebenarnya adalah semu belaka, kadang kalian ditipu dengan keindahannya, dari kebutaanku ini aku belajar untuk melihat dengan hati, melihat dengan jiwa, melihat sesuatu yang kadang tersembunyi di balik keindahan yang terpancar dan terlihat oleh mata. Dari situ aku bisa melihat kejujuran yang jujur, kebaikan yang tulus dan keindahan kehidupan yang sebenarnya.

Teman, aku memang buta, tapi aku mensyukurinya karena mungkin ini yang digariskanNya.

Special untuk teman-teman yang kehilangan indera penglihatannya, aku bangga kepada kalian....

Wednesday, October 11, 2006

Sebuah Cerita Kehidupan...

Seorang ibu berprofesi peminta-minta yang berada di sudut lampu merah itu menggendong anaknya yang masih kecil, berjalan mendekati seorang pedagang makanan keliling. Dengan beberapa ratus rupiah sebuah bungkus permen itu berpindah tangan, yang kemudian diberikannya kepada sang anak di gendongan. Sang anak dengan wajah ceria menerima dan kemudian memainkannya tanpa bermaksud memakannya, mungkin karena tidak tahu bagaimana cara membukanya atau memang dia hanya memainkannya. Sang kakak mendekatinya dan mencoba untuk meminta permen itu, tapi sang adik tak memberikannya dan karena kakanya memaksa maka menangislah si kecil.
Sebuah potret nuansa kehidupan manusia di kota metropolitan, sebuah foto yang jelas menggambarkan bagaimana beratnya mengarungi kehidupan ini.

Anak mungil yang tidak seharusnya berada tiap hari di jalanan yang penuh dengan kotoran kimia itu tanpa dapat menolak harus menjalaninya, dia harus bersahabat dengan semua kotoran, debu, motor, dan mobil serta orang-orang yang lewat di lampu merah itu, dia, tanpa pernah mengerti menghirup bulat-bulat semua hal yang di sajikan di depan hidungnya, semua kotoran yang seharusnya di buang oleh kuda-kuda besi itu harus dihirup dan dimasukkan ke paru-parunya yang kecil, harus dialirkan oleh darahnya ke semua sudut bagian tubuh mungilnya. Sebuah cerita sedih yang tak tau kapan akan berakhir.

Sang kakak yang masih berusia 6 tahunan, yang juga tidak seharusnya menemaninya karena bukankah dia sudah cukup umur untuk masuk ke sebuah sekolah ? untuk duduk di bangku kecil dan mendengarkan semua pelajaran yang diberikan oleh sang guru ? bukankah dia sebaiknya bermain di sebuah tanah lapang yang cukup asri daripada harus bermain di pinggiran trotoar jalan ? bukankah dia layak untuk mendapatkan teman-teman yang lebih baik untuk bermain daripada bermain dengan orang-orang yang berumur jauh lebih tua darinya ?

Dan sang ibu, yang menjadi sumber dari segala sumber ini semua, apakah patut disalahkan ? mungkinkah dia dapat meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil-kecil itu di rumah, jika mereka mempunyai rumah, sendiri tanpa pengawasan ? mungkinkah dia akan berada di jalanan kalo dia mempunyai suami yang bisa memberikan nafkah bagi keluarga kecil itu ? mungkinkah dia akan "mengorbankan" masa depan anaknya dengan cara seperti itu ? ataukah dia seorang ibu yang malas yang hanya memikirkan jalan pintas untuk mendapatkan uang tanpa memikirkan nasib anak-anaknya ? ataukah dia memang tidak tahu bahwa semua yang dia lakukan itu merusak kehidupan masa depan anak-anaknya ? atau dia memang sudah putus asa dengan semua kemiskinan yang selalu menemani sepanjang kehidupannya ?

Sebuah cerita kehidupan yang selalu berulang dan berulang, kapankah akan usai ?

Terinspirasi dari sebuah kejadian di pagi hari ini di sebuah perempatan lampu merah

Friday, September 22, 2006

Semua Rasa Ini Untukmu

Semua rasa indah yang mengembang di dalam hati
kupersembahkan semuanya untukmu
sebagai suatu tanda, bahwa kuingin yang terbaik untukmu
Tak perlu kau hiraukan semuanya
biarkan semua penghalang pupus menghilang ke dasar bumi
Tak perlu sedih melihat keadaan yang ada,
karena semuanya hanyalah sementara belaka
bagaikan musim yang selalu berganti,
mengarungi lautan waktu
Nantikan matahari yang akan selalu menyinari kehidupan kita,
nantikan sang hujan yang akan selalu menyirami kehidupan kita
Percayalah pada kasih sang Khalik, sebab itu yang akan memberikan kehidupan abadi bagi kita

(sebuah rasa yang datang sekejap dari dalam hati, yang ingin dipersembahkan untuk seseorang disana yang memberikan rasa cinta dan kasih terdalam serta tulus, untuk seorang lelaki bodoh).

Wednesday, September 20, 2006

Sejenak, Kembali Ke Kotamu

esunyian itu kembali menyapaku, tak henti mengalir memasuki bagian terdalam pikiranku yang terus mengembara, terbang ke awang-awang dan tak terhenti sampai menembus suatu batas imaji yang mampu dihasilkan oleh otak kecil manusia.

Godaan itu kembali muncul, bagaikan sebuah foto yang terpotret jelas dalam ingatan, sebuah kota kecil yang damai, sebuah kota yang pernah kusinggahi beberapa waktu silam dan sempat kunikmati keindahannya. Sebuah kota yang diapit oleh pegunungan dan lautan.

Udara yang begitu menyejukkan hati, mendamaikan pikiran dan jiwa, suasana yang menebarkan aroma cinta, membuat kehidupan bagaikan sebuah air yang mengalir tanpa harus ada sesuatu yang mengganggunya. Memberikan kenikmatan yang tak terkira, sebuah candu yang ingin selalu kembali dinikmati. Aroma masakan khas yang menebar hampir di setiap sudut kota memberikan nuansa tersendiri.

Cita rasa seni tinggi yang memancar dari hasil karya sang ahli, mengasah rasa yang sudah tumpul karena aroma perkotaan yang sangat kental mengendap di dalam tiap pembuluh darah.

Kultur budaya kental yang memberikan suasana santai dan kelegaan bagi tubuh yang penat oleh segala hiruk pikuk kehidupan duniawi, sebuah budaya nrimo, yang gampang tuk terucap tapi sulit tuk dimengerti dan dilakukan.

Ingin kembali kesana walau hanya tuk menyapa segala yang ada, membasuh diri yang sudah terlalu kotor dengan asap debu dan kotoran-kotoran yang menempel di tubuh ini, menepi sejenak tuk merenungi sgala hakikat kehidupan. Ingin menikmati sgala apa yang terhirup di jiwa, sekedar mendamaikan dan melegakan pikiran dan jiwa, walau sejenak…

Friday, September 15, 2006

Terima Kasih...

Sentuhanmu menyadarkanku, dari semua lamunan yang membuat aku bagaikan sebuah arca, membisu, tanpa ekspresi.
Kau menarikku kembali tuk mendarat kembali setelah sejenak terbang ke dunia imaji. Bukan, bukan salahmu, kau sama sekali tak menggangguku, memang aku terlena dengan pikiranku sendiri, ku ingin lepas dari segala keruwetan di dunia ini, tapi itu tak mungkin, karena aku masih manusia, ya seorang manusia yang harus tetap menjalani semua jalan yang telah diatur olehNya untuk dilewati, tuk nanti akhirnya mempertanggungjawabkannya di hadapan tahta Sang Empunya Kehidupan.

Semua masalah yang aku hadapi serasa menjadi berkumpul menjadi satu dan serasa menghantam-hantam seluruh tubuhku, lelah, sakit, nyeri, semua rasa ketidak enakan itu serasa menyerang semua bagian tubuhku, tak terkecuali. Semuanya bergumul memenuhi tiap sudut otak kecilku, meminta untuk segera dikeluarkan, bagaikan lahar di gunung merapi sang terus menerus bergelegak dan menanti untuk dilontarkan keluar.

Mungkin aku yang salah, karena segala keruwetan saat ini terjadi karena masalah yang tak terselesaikan dahulu, suatu keruwetan yang kecil dan aku diamkan karena tak aku anggap mengganggu, tapi ternyata menjadi besar dan sekarang membuat segalanya menjadi sebuah bom waktu yang sebentar lagi akan meledak, meluluhlantakkan segala yang ada di sampingnya.

Terima kasih kau telah menarikku kembali ke kenyataan yang harus aku hadapi, kenyataan yang tak mengenakkan tapi harus aku selesaikan. Sebuah rasa kasih yang terpancar dari mata dan sikapmu membuatku menjadi merasa lebih kuat tuk menyelesaikan segala keruwetan ini. Rasa pengertian yang kau tunjukkan benar-benar membuat aku tabah tuk meneruskan kehidupan ini. Rasa damai yang kau siratkan membuat segalanya menjadi lebih ringan, lebih dingin tuk dicari penyelesaiannya.

Terima kasih kau telah hadir dalam kehidupanku, terima kasih kau tetap mau menemaniku di saat sulit ini, terima kasih atas pengertian, dan kasih yang tlah kau berikan, terima kasih atas cinta yang tak pernah henti.
TERIMA KASIH……

(Special for my beloved one yang selalu mendukung aku dalam semua keadaan yang aku jalani sampai saat ini)

Friday, September 08, 2006

Happy Birthday My Blog….

Photobucket - Video and Image HostingBeribu kata tlah tertuang , beratus kalimat tlah terketik dengan rapi sejuta makna tertumpah dari keseluruhan pikiran dan kedalaman jiwa
Untaian kata dan kalimat yang menceritakan kehidupan baik yang nyata ataupun khayalan semata. Tidak semuanya nyata tapi tidak juga semuanya khayalan.

Suasana gembira, sedih, hampa, dan riang jelas menyelimuti rangkaian kalimat yang tertuang.
Keinginan yang kadang timbul tenggelam laksana sebuah perahu yang selalu terombang-ambing oleh gelombang yang mendasarinya.

Usaha yang keras tuk terus berusaha mencari makna dari arti kehidupan dan apa yang terjadi di kehidupan menjadi suatu semangat tersendiri tuk terus tetap mengetikkan huruf demi huruf.

Bagaikan air sungai yang mengalir dengan eloknya, menari-nari mengikuti jalan yang harus ditempuhnya, begitupun sang pikiran menari-nari, mencari-cari kata yang sesuai tuk mencerminkan apa yang mengendap di jiwa dan berkecamuk di sang pikiran. Tak ada niat tidak baik yang ingin di berikan, hanya mengikuti keindahan hati tuk sekedar menciptakan realitas dari khayalan. Khayalan dan kenyataan berbaur menjadi satu membangun suatu alur pemikiran, menciptakan sebuah karya yang diharapkan dapat dinikmati siapa saja yang membacanya, tak perlu pintar, tak perlu berpendidikan tinggi, tak perlu kaya, dan tak perlu terlalu lama mengeraskan otak tuk mencerna semuanya.

Hati, mata dan pikiran menjadi lebih peka dengan sekitar, menandakan pembelajaran diri yang tak henti. Memang baru setahun proses ini berjalan, tapi tlah banyak hikmah yang terserap. Semoga, pembelajaran diri ini akan tetap berjalan seiring dengan perjalanan sang waktu

(SELAMAT ULANG TAHUN BLOGKU, SEMOGA KAU TETAP MEMBERIKAN PEMBELAJARAN YANG BERMAKNA UNTUKKU)

Image Copyright : Michael Jastremski

Thursday, August 31, 2006

Terima kasih, atas cintamu…

Pagi ini serasa sang raja cahya memancarkan kekuasaanya lebih lembut, selembut kehangatan yang menyapa kulit tubuhku, memberikan kesegaran dan rasa nyaman pada tubuh dan jiwa ini.

Ku teringat kemarin saat kau ungkapkan perasaanmu yang terdalam yang kau tujukkan untukku, sebuah perasaan jujur dan suci yang tlah di anugerahkan dari Sang Pencipta untuk mahluk-mahluk ciptaan-Nya.

Betapa rasa hangat, nyaman, bahagia, dan haru bercampur menjadi satu memenuhi seluruh sisi rongga hatiku, membuat pikiranku bagaikan di letakkan di lemari pendingin yang membekukan, serasa jiwa meninggalkan raga ini ‘tuk sekedar melompat meloncat dan berlari dan menari di angkasa, merayakan kebahagiaan ini, menikmati rasa yang kemudian menjalar ke tiap seluk tubuhku.

Sayang, cinta yang kauberikan kepadaku bagaikan sebuah pelukan hangat di waktu rasa dingin menyerangku, bagaikan sebuah cahaya dimana kekelaman menderaku, bagaikan sebuah oase di tengah kedahagaanku.

Kasih, terima kasih atas rasa sayang yang kau curahkan tak hentinya, rasa itu benar-benar tlah menyembuhkan segala duka yang pernah bersemayam di dalam hatiku ini, rasa sayangmu telah membuat aku merasa bahwa kehidupanku ini menjadi jauh lebih baik dengan adanya dirimu.

Tanganmu yang selalu menggenggam tanganku memberikan rasa teduh yang tak terhingga, sehingga aku merasa semakin kuat untuk menjalani kehidupan ini.
Kekasihku, masih panjang jalan yang harus kita tempuh berdua, masih banyak cobaan yang akan menyertai kehidupan cinta kita ini, tapi yakinlah selalu pada cinta kasih yang tlah bersemayam di hatiku dan hatimu, mari kita pupuk tanaman cinta yang tlah tumbuh di hati kita, jangan biarkan cinta ini mati sebelum cita-cita suci kita tercapai, berikanlah selalu kesegaran padanya sehingga menjadi berkembang dan memenuhi seluruh darah yang mengalir dalam tubuh ini.

“Bapa, terima kasih atas anugerah yang tlah kau berikan kepada kami, terima kasih karena Kau mau membantu kami menyuburkan tanaman cinta yang tlah tumbuh, kami mohon agar Kau mau membantu kami menjaganya sampai akhir hayat kami, sampai kau panggil kami ke dalam kerajaanMu. Amin.”
(Special for Sherly dan teman-teman yang telah “menemukan” cintanya)

Wednesday, August 23, 2006

Sepenggal Cerita Sedih....

Wajah mungil dan lucu itu berubah sayu, matanya yang biasanya bening dan memancarkan cahaya kegembiraan sekarang mendadak sendu bagai matahari yang tertutup awan tebal. Tanggannya yang biasanya tak berhenti bergerak sekarang tergolek bagaikan dahan patah. Bau ruangan yang tidak mengenakkan karena bercampur dengan bau obat-obatan dan pewangi lantai yang cukup menyengat. Anak kecil itu mengalami ketidaknormalan di bagian tubuhnya yang membuat dia tidak dapat beraktifitas lagi dan harus rela untuk selalu berteman dengan tempat tidur dibanding dengan anak-anak sebayanya.

Bukan, ketidaknormalan itu bukan karena ulahnya, tetapi merupakan "rencana" dari Sang Kuasa, yang tidak dapat dielakkan dan tak dapat ditolak.

Sebagai manusia yang lemah, rasa duka menjalar dalam seluruh hati, pori tubuh melebar melihat kenyataan yang terbias di mata, dan air dari dalam mata tak kuasa terbendung dan meleleh jatuh melewati setiap lekuk pipi tuk kemudian jatuh ke tanah dan hilang tak berbekas.

Anak itu tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, dia tidak tahu bahwa sebentar lagi dia akan menghadapi pembantu Sang Khalik yang bertugas untuk berusaha menyelamatkan hidupnya, dia tidak tahu bahwa sebentar lagi tubuh mungilnya akan di dera dengan pisau-pisau kecil yang tajam dan mengkilap dan siap membelah tubuhnya yang mulus dan bersih itu.

Diantara kedukaan sang kecil, ayah bundanya juga mengalami kedukaan yang tak kalah hebatnya, rasa sayang menjadi alasan utama, dimana saat pemikiran bagaimana menyelamatkan jiwa sang kecil, pemikiran lainnya mengharuskan mereka untuk mencari cara bagaimana memberikan sejumlah uang kepada rumah sakit dan dokter yang melakukan pembedahan itu, karena biaya pengobatan itu bagaikan membeli sebuah langit bagi mereka.

Tapi Sang Khalik memutuskan lain, di saat semuanya sedang terkungkung dalam pemikiran-pemikirannya sendiri, ternyata sang bocah tanpa meninggalkan pesan sesuatupun pulang ke rumah Sang Pemberi Hidup. Ya, dia pulang ke rumahnya yang abadi dimana penyakit dan segala kefanaan tak ada disana, dimana kebahagiaan menjadi santapan sehari-hari dan kedamaian selalu memeluk dengan erat.

Selesailah sebuah cerita kehidupan seorang anak manusia yang belum mengenal apa arti dosa yang belum mengerti apa yang baik dan apa yang salah.

Semoga rasa kehilangan itu tak akan lama mengendap di dalam hati pengasuh sementara sang bocah, semoga rasa sedih cepat pupus dan diganti dengan rasa pasrah, dan tawaqal kepada Sang Pemberi Hidup.

(Untuk Safitri yang tlah meninggalkan dunia fana ini, semoga Bapa di Surga memberikan tempat di sisi kananNya dan memberikan ketabahan untuk orang-orang yang ditinggalkannya)

Wednesday, August 16, 2006

MERDEKA !!!

Photobucket - Video and Image Hosting

Wednesday, August 09, 2006

Semoga...

Seorang bocah duduk sendiri, kakinya yang tak begitu panjang bergerak-gerak, menendang-nendang plastik atau apapun yang melintas di dekat kaki kecil itu karena tertiup angin.

Wajahnya yang kuyu, dan pakaian yang agak kumal menutupi tubuh kecilnya, kulitnya kehitaman terkena terik matahari dan debu jalanan dari kuda-kuda besi yang melintas. Sambil ditangannya memegang sebuah gelas plastik yang sudah tak utuh bentuknya.

Bocah itu, paling banyak umurnya baru 8 tahun, tapi hari dimana dia seharusnya duduk di bangku dalam sebuah kelas dan berhadapan dengan seorang guru, saat ini di malah duduk di pinggiran trotoar dan berhadapan dengan mobil dan motor yang membuang lembah kimia seenaknya di bumi ini.

Sudah sekian tahun, bocah cilik itu selalu berada di perempatan itu untuk membantu kehidupannya dan orang tuanya, ayahnya hanyalah seorang pemulung sampah sedangkan ibunya menjadi penjaja makanan ke kampung-kampung sudut kota ini, sedangkan dia menjadi pengemis jalanan, dan adiknya menjaga adiknya yang paling kecil di rumah.

Bocah itu bukanlah anak yang tidak mau sekolah, tapi apa yang bisa diharapkannya dari kehidupan di kota yang keras ini ? untuk hidup cukup saja dibutuhkan banyak sekali pengorbanan, dia harus bangun pagi untuk membantu ibunya menyiapkan segala makanan yang akan dibawanya berjualan. Setelah itu dia harus pergi ke tempat mangkalnya, karena tempat itu akan ramai saat orang-orang kantoran berangkat bekerja, dan saat itulah kemungkinan terbesar bagi dia untuk dapat menambah penghasilan orang tuanya agar dapat digunakan untuk kehidupan mereka sekeluarga.

Bocah itu adalah salah satu potret kehidupan di kota yang keras ini, sebuah potret realitas kehidupan orang-orang yang tersisih dari kegemerlapan kota. Sebuah potret yang mau tak mau harus kita lihat dalam keseharian.

Siapakah yang bertanggung jawab dengan kondisi ini ? apakah orang tuanya, karena mereka tidak punya pengetahuan dan pendidikan yang cukup sehingga membuat keluarga mereka berada dalam kondisi seperti itu ? atau pemerintah yang tak dapat membiayai mereka yang berada dalam garis kemiskinan ? ataukah kita, manusia yang tiap hari berjumpa dengan mereka dan mengetahui dengan jelas raut wajah, tubuh dan baju yang mereka pakai ?

Mungkin sudah saatnya kita merenung tuk sekedar menepi dari rutinitas kehidupan kita ini sehingga kita bisa lebih menjadi manusia dibandingkan waktu sebelumnya….Semoga…

Monday, August 07, 2006

Cinta, jangan pergi…


Wahai cinta, bagaimanakah kabarmu ?

Lama tak kau sentuh hatiku dengan kehangatanmu

Cinta, mengapa kau tinggalkan hati ku ?

Sehingga menjadi gelap dan dingin



Cinta,

sejak kau tinggalkan aku

Rasa dingin menjalar di relung-relung sudut hatiku

Membuat kebekuan dalam rasa



Cinta,

dengan tiadanya engkau

Benci dan amarah mulai meraja di hatiku

yang menjadi sebab kehancuran sekelilingku



Cinta,

Kau telah lihat sendiri

Karena kau tak ada, maka dunia ini penuh dengan angkara

oleh orang-orang yang kau tinggalkan



Cinta,

Kembalilah kepada kami

Hangatkan jiwa dan hati kami

Janganlah kau pergi lagi