Tuesday, May 30, 2006

Saudaraku….

Mataku tiba-tiba tertatap tajam
melihat text yang berjalan di bagian bawah televisiku
Jantungku serasa berhenti berdetak
namun setelah itu berdegup dengan sangat kencang

Kota indah itu tlah porak-poranda,
bukan…bukan karena ulah manusia,
tapi karena alam yang menggeliat
ya karena geliatan alam

Dinding itu meretak…atap-atap dan isi rumah berjatuhan
saudara-saudaraku yang masih beristirahat dengan tenangnya
tiba-tiba harus berloncatan terbangun
dan lari keluar dari peraduannya

Kasihan kaki-kaki kecil itu,
mereka harus mengikuti langkah orang tuanya untuk menghindarkan diri
kasihan kaki-kaki rapuh itu,
yang terhuyung-huyung untuk sekedar mencari tempat yang aman

Tapi…
ribuan saudara harus berpulang
puluhan ribu terluka
tak sempat tuk menghindar

Suara tangis dan jeritan perih terdengar
sebagai penghilang ngilu dan sakit karena luka menganga di tubuh
sebagai pengungkap kesedihan karena terpisah dari orang-orang tercinta
sebagai pengungkap rasa sebagai manusia lemah tak berdaya

Suatu pemandangan yang membuat mata berkaca-kaca dan hati tercabik-cabik
tapi disini, ribuan kilo dari sana ku berada,
hanya sebuah doa dan sedikit bantuan yang dapat ku berikan
semoga bisa mengurangi sedikit penderitaan yang terasa disana


Untuk saudara-saudaraku di Jogja, semoga diberi kekuatan dan ketabahan untuk menerima segala kondisi yang ada.

original post : 29 Mei 2006

Tuesday, May 23, 2006

Aku, Lelaki ...

Kelu lidahku, tak sanggupku mengatakannya...
Otakku terasa membeku, tak lagi mampu tuk berpikir
Tuk menyatakan segalanya untukmu

Aku bukan lelaki romantis, yang bisa menyatakan perasaan hatinya dengan terbuka
Aku bukan lelaki yang pintar merayu, yang biasa merangkai kata-kata indah
Aku bukan lelaki yang dapat membuat engkau merasa melayang di awang-awang
Aku bukan lelaki yang bisa memberikan segala kebutuhan hidupmu

Tapi, aku adalah lelaki yang akan menyayangimu, sampai jiwa meninggalkan raga
Dan aku adalah lelaki yang akan berusaha melindungimu dari segala kebusukan dunia
Dan aku adalah lelaki yang akan berusaha membahagiakanmu dalam usia hidupmu
Dan aku adalah lelaki yang akan mencintaimu dengan segala yang aku miliki

original posted : 19 Mei 2006

Keputusan

Seorang anak kecil, sambil berjalan terseok-seok, di tengah teriknya matahari yang sedang memancarkan kekuatannya sekaligus kasihnya ke bumi ini.
Dia, membawa sebuah gelas plastik bekas, mengasongkannya kepada setiap pengendara motor dan mobil yang berhenti di perempatan jalan sambil menunggu lampu hijau.
Anak itu tidak sendiri tapi bersama beberapa temannya, dan hebatnya lagi, mereka seperti punya perjanjian mana 'bagian' mereka untuk dimintai dan mana 'bagian' temannya.
Aku yang juga sedang berhenti, memperhatikan mereka, dan salah satu anak itu mendekati ku sambil mengasongkan gelas bekas itu yang sudah berisi beberapa keping uang.
Dia tidak berbicara hanya matanya yang memandangku, dengan tatapan yang memelas...
Aku menggoyang-goyangkan tanganku, sambil berkata 'lainnya saja...'
Setelah lampu menjadi hijau, aku menjalankan motorku lambat-lambat. Di pikiranku masih tergambar dengan jelas, tatapan matanya, tatapan mata yang meminta untuk dikasihani....
Apakah keputusanku untuk tidak memberikan 'sedikit' uang kepada mereka sudah benar ?

Sekilas pikiranku teringat sebuah berita di tv yang menceritakan kehidupan mereka, dimana mereka hanya dipergunakan oleh seseorang untuk mencari uang, anak-anak itu dijadikan 'sales' mereka untuk mendapatkan kekayaan. Sungguh biadab memang kedengarannya, tapi itulah kehidupan dunia, yang kuat yang akan memang.
Bagiku memberi mereka uang yang sebenarnya untuk membantu mereka, tapi malah membantu para 'bosnya' untuk menjadi semakin kaya, ya walau yang aku beri juga tidak akan terlalu besar, tapi sama saja judulnya tetap membantu si bos, bukan membantu si bocah.
Tapi bagaimana, jika si bocah memang bekerja untuk dirinya sendiri, alias dia memang meminta-minta untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan bukan untuk organisasi atau genk atau bos, seperti yang aku pikirkan ? jika semacam itu, berarti aku bersalah karena tidak membantunya.....
Pemikiran itu terus menerus berulang, dan sampai sekarang akupun tidak menemukan jawabannya, karena aku tak tahu mana yang benar, ini bukan masalah hati nurani atau bukan, karena hati nurani pasti akan mengatakan untuk memberi sedangkan otak sebagai tools penimbangnya, tetapi tetap harus diambil keputusan apakah akan memberi atau tidak.
Karena keputusan adalah sebuah keputusan, kita tidak tau efeknya sampai suatu waktu yang akan datang.

original posted : 16 Mei 2006

Seorang anak kecil, sambil berjalan terseok-seok, di tengah teriknya matahari yang sedang memancarkan kekuatannya sekaligus kasihnya ke bumi ini.
Dia, membawa sebuah gelas plastik bekas, mengasongkannya kepada setiap pengendara motor dan mobil yang berhenti di perempatan jalan sambil menunggu lampu hijau.
Anak itu tidak sendiri tapi bersama beberapa temannya, dan hebatnya lagi, mereka seperti punya perjanjian mana 'bagian' mereka untuk dimintai dan mana 'bagian' temannya.
Aku yang juga sedang berhenti, memperhatikan mereka, dan salah satu anak itu mendekati ku sambil mengasongkan gelas bekas itu yang sudah berisi beberapa keping uang.
Dia tidak berbicara hanya matanya yang memandangku, dengan tatapan yang memelas...
Aku menggoyang-goyangkan tanganku, sambil berkata 'lainnya saja...'
Setelah lampu menjadi hijau, aku menjalankan motorku lambat-lambat. Di pikiranku masih tergambar dengan jelas, tatapan matanya, tatapan mata yang meminta untuk dikasihani....
Apakah keputusanku untuk tidak memberikan 'sedikit' uang kepada mereka sudah benar ?

Sekilas pikiranku teringat sebuah berita di tv yang menceritakan kehidupan mereka, dimana mereka hanya dipergunakan oleh seseorang untuk mencari uang, anak-anak itu dijadikan 'sales' mereka untuk mendapatkan kekayaan. Sungguh biadab memang kedengarannya, tapi itulah kehidupan dunia, yang kuat yang akan memang.
Bagiku memberi mereka uang yang sebenarnya untuk membantu mereka, tapi malah membantu para 'bosnya' untuk menjadi semakin kaya, ya walau yang aku beri juga tidak akan terlalu besar, tapi sama saja judulnya tetap membantu si bos, bukan membantu si bocah.
Tapi bagaimana, jika si bocah memang bekerja untuk dirinya sendiri, alias dia memang meminta-minta untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan bukan untuk organisasi atau genk atau bos, seperti yang aku pikirkan ? jika semacam itu, berarti aku bersalah karena tidak membantunya.....
Pemikiran itu terus menerus berulang, dan sampai sekarang akupun tidak menemukan jawabannya, karena aku tak tahu mana yang benar, ini bukan masalah hati nurani atau bukan, karena hati nurani pasti akan mengatakan untuk memberi sedangkan otak sebagai tools penimbangnya, tetapi tetap harus diambil keputusan apakah akan memberi atau tidak.
Karena keputusan adalah sebuah keputusan, kita tidak tau efeknya sampai suatu waktu yang akan datang.

original posted : 16 Mei 2006

Tuesday, May 09, 2006

Aku lakukan untuk kalian semua

Tidak, aku tidak jahat kepada kalian
Aku sudah memberitahu kapan aku akan mengeluarkan isi perutku
Sehingga kalian bisa bersiap-siap
Tapi, kadang kalian merasa egois
Kalian lebih menyayangkan harta benda kalian dibanding dengan jiwa kalian sendiri
Saat ada saudaramu yang memintamu untuk pindah sementara di tempat yang aman
kalian dengan keras kepala menolaknya.
Aku tahu bahwa kalian hidup nyaman bersamaku selama beberapa waktu ini
tapi memang sudah waktunya aku mengeluarkannya
bukan semata-mata untukku sendiri
tapi ini juga untuk kebutuhan kalian,
tahukah kalian bahwa setelah laharku dingin dan membeku
dapat kalian tanami dengan tanaman, dan apakah kalian tahu,
bahwa kesuburannya akan jauh melebihi kesuburan tanah yang kamu miliki sekarang ?

Tidak, aku tidak egois
aku melakukan ini semua untuk kalian, untuk bumi ini juga
untuk kehidupan kalian, agar kalian lebih makmur.

Aku menyayangi kalian, seperti aku menyayangi bumi ini, karena aku adalah bagian dari semesta alam ini, karena aku adalah Merapi.

Thursday, April 20, 2006

Ketika Pilihan Bukan Lagi Pilihan

Ketika pilihan tak lagi menjadi pilihan,
yang ada hanya keharusan untuk melakukannya,
bukan karena tak ada pilihan
tapi karena tak ingin melihat dan merasakan akibatnya

Hanya keteguhan jiwa,
hanya kekuatan pikiran
hanya kemauan keras
yang akan menjawabnya

Apakah akan lahir suatu pengetahuan baru dan pembelajaran diri
ataukah kehancuran semangat dan tenggelamnya kemauan
yang akhirnya akan menang ?

Wednesday, March 29, 2006

The Other Side

"Kamu jahat"
"Lo, khan emang aku jahat. Bukankah kalo jahat itu umurnya panjang ? lihat aja orang-orang yang kamu anggap jahat
di sekitarmu, mereka berumur panjang khan ? dan berhubung aku masih suka junk food - junk food ya aku mau jadi orang jahat aja..."

"Kenapa kamu bilang aku jahat ? aku tidak mengajak orang lain untuk berbuat seperti aku koq, bukannya setan
kamu sebut jahat karena dia mengajak semua manusia untuk melakukan sesuatu yang sama seperti yang dia lakukan ? aku
nggak koq."

"Dan seandainya aku jahat, kamu kira berbuat jahat lebih gak enak ?
kamu tau ngak kalo kamu berbuat jahat, kamu gak perlu pikirin orang lain, kamu bisa melakukan sesuatu yang kamu inginkan,
tanpa kamu harus mempertimbangkan apakah apa yang kamu lakukan itu akan merugikan orang lain atau tidak.
Coba kalo kamu menjadi orang baik, kamu harus pikirin apakah tindakan kamu akan merugikan
orang lain, apakah tindakan kamu akan menyakiti orang lain, apakah tindakan kamu akan membuat orang lain menderita, kamu
harus pikirkan itu semua.
Selain itu dengan jadi jahat, akan lebih menyenangkan, karena aku bisa tertawa walau orang lain kesusahan, apa pedulinya
dengan aku ?, sudah seringkali aku diperlakukan seperti itu, dan aku kira ini saatnya untuk membalas perlakukan seperti itu.
Orang lain sering memperlakukan aku dengan sewenang-wenang, kenapa aku tidak boleh memperlakukan orang lain seperti yang
pernah mereka lakukan kepada aku ?"

"Dengan jadi orang jahat
dan kemudian kamu berubah jadi orang baik, akan lebih baik daripada sebaliknya khan, dari orang
baik malah jadi jahat ?, dan lagi orang lain akan lebih menghargai orang yang bertobat dari pada orang yang menjadi jahat
bukan ?, so kenapa harus jadi orang baik ?"

sebuah pemikiran liar dari seorang anak manusia

Friday, March 24, 2006

Sometimes

sometimes you dont know what you want to do,
sometimes you dont know what you are looking for,
sometimes you dont know what you need,
but life is a journey,
you must know,
the only you need is time....

ps : sebuah postingan dari blog lamaku, sebuah puisi singkat tapi sangat aku suka.

Monday, March 13, 2006

Nasihatku Untukmu

Anakku,
Usiamu tlah beranjak dewasa
Inilah masa-masa tantangan terbesar di hidupmu
masa-masa dimana pengakuan diri sedang kau cari
bagi dirimu sendiri maupun untuk orang di sekitarmu

Anakku,
Masih sangatlah panjang jalan yang harus kau jalani,
janganlah terburu nafsu terhadap semua yang kau hadapi,
ku tahu bahwa diusiamu, emosi masih jadi raja di hati dan pikiran,
berusahalah untuk tetap tenang dalam menghadapi semuanya

Anakku,
Banyak hal yang akan kau alami,
hal yang sesuai dengan kehendakmu dan yang tidak sesuai
Tapi bersikap tenanglah, karena tak semuanya bisa kau selesaikan sendiri dan dengan waktu yang singkat
Semuanya itu akan butuh waktu agar kau dapat memahaminya

Anakku,
Kau harus kuasai emosi yang ada dalam pikiran dan hatimu,
jangan sampai kau dikuasai olehnya.
Ingatlah, bahwa apa yang kau lakukan, akan selalu ada akibatnya.
Dan jika kau salah melangkah, kamu mungkin akan kehilangan semua impianmu.

Anakku,
Ingatlah pesan ayahmu ini
hanya nasihat seperti ini yang bisa aku berikan kepadamu, lain tidak
semoga engkau mendapatkan yang terbaik untuk hidupmu
dan engkau memperoleh kebahagiaan selalu


inspired by : Father and Son - Boyzone

Friday, March 10, 2006

Yang Terhormat

Hanya sebuah pikiran dari seorang manusia, yang ingin mencoba menyuarakan apa yang ada di dalam hati dan pikiran manusia lainnya


Yang terhormat yang duduk di singgasana, kami ini rakyat kecil yang masih kekurangan segala sesuatunya, untuk hidup pun kami masih susah, tolong jangan susahkan kami dengan peraturan-peraturan yang kami sendiri tidak mengerti apa maksudnya.

Kami harus sudah bangun, saat kalian masih tidur dengan lelap disamping pasangan masing-masing, ya kami harus bangun subuh, bukan hanya untuk sholat tapi benar-benar untuk melaksanakan kewajiban hidup kami, bekerja. Mungkin bagi kalian pekerjaan hanya suatu bentuk rutinitas yang harus kalian terima, tapi bagi kami, kerja bukan lagi sebagai tugas
tetapi adalah suatu hal yang membuat kami masih bisa hidup sampai hari ini.
Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian pasti tahu bahwa biaya hidup saat ini jauh diluar batas kemampuan kami, para rakyat tak mampu ini.
Kalian bekerja dengan 8 jam kerja sehari bahkan mungkin kurang, ya tapi apakah kami pernah mempermasalahkan hal itu ?, tidak, karena kami sadar, memang kami ditakdirkan untuk bekerja lebih berat dari kalian dan hasil yang kami dapat jauh bedanya dengan hasil yang kalian dapat, tapi seperti yang pernah orang tua kami nasihatkan kepada kami,
kami memang harus hidup keras agar kami bisa menjalani kehidupan ini.
Dan apakah kalian tahu ? bahwa kerja kami PASTI lebih dari 8 jam dalam 1 hari, bahkan kadang kami "cuma" bisa beristirahat 2-4 jam sehari, itupun bila anak-anak kami tidak ada yang rewel atau sakit, apakah kalian mempunyai etos kerja seperti yang kami punya ?

Dan sekarang, kalian menyatakan bahwa kami tidak boleh berada di tempat umum bila malam tiba ? apakah itu adil ? kami masih bekerja sampai malam, bukan, kami bukan pelacur, kami hanyalah orang yang harus bekerja keras membanting tulang, memeras keringat atau apapun istilah kalian, untuk kehidupan anak-anakku.
Dan kalian buat aturan itu tanpa meminta pendapat dari kami ?
apakah kalian anggap kamu ini adalah mahluk-mahluk hina yang tak berhak kalian temui dan kalian mintai pendapat ? ingatlah, kami yang yang menjalaninya, kalian ada disana karena kami ada disini, jika tidak ada kami yang akan kau perintah kalian tidak ada gunanya duduk
disana, jadi, tolong perhatikan empati kalian kepada kami, karena kami ini juga manusia
sama seperti kalian.

Kenapa kami harus di perlakukan seperti itu untuk sesuatu yang tidak kami lakukan ? Apa salah kami kepada kalian ?

Kami tidak meminta banyak kepada kalian, hanya kami minta agar kalian mengerti keadaan kami, sehingga kami akan dapat hidup lebih "layak" seperti kalian

Terinspirasi dari sebuah peristiwa.

Tuesday, March 07, 2006

Untukmu sahabatku

Kudengar lirih alunan lagu, sebuah lagu tentang persahabatan
Ku ingat aku pernah menulis juga untukmu sahabatku
Pikiranku sejenak berhenti
kemudian mengais-ngais cerita yang pernah kita tulis bersama

Sebuah kisah kehidupan dua anak manusia
coba tuk saling berbagi tanpa ada keinginan tuk dibalas
coba tuk saling mencinta tanpa ada nafsu yang mengotorinya
coba tuk saling menolong tanpa ada pamrih di balik semua tindakan yang dilakukan

Sahabat,
tak ada sentuhan raga seperti dulu
hanya imaginasi maya yang tergambar di pikiran
tapi kau seakan berada di dekatku

Sahabatku,
cerita kita masih teringat jelas dalam pikiranku,
kan ku buat prasasti indah di dalam hati
tuk mengenang cerita kita, agar tak terhapus oleh sang waktu

ps : buat semua sahabatku, terima kasih atas saran dan komentar yang kalian berikan di waktu lelahku

Wednesday, March 01, 2006

Lelah.....

Lelahku menjalaninya....
kehidupan ini begitu membuat tubuhku lelah,
bagaikan sebuah batang tua yang tertiup oleh angin kencang
tak berdaya menghadapinya tapi juga tak berdaya menolaknya

Asa tlah pupus...
bagaikan sebuah lilin yang padam
semangat di dada tlah menguap
bagaikan air yang terkena terpaan sang surya

Pikiran, sang penuntun tubuh ini
tak dapat berpikir lagi
dingin, membeku...
dalam sebuah tempat sunyi

Akankah tubuh rapuh ini khan dapat bertahan
tuk menjalani semua perjalanan kehidupan
akankah dapat bertahan tuk melalui semuanya
berjalan di jalan yang tak tahu ujungnya

Tuesday, February 21, 2006

Cinta

Kenapa orang mau jatuh cinta ? padahal cinta itu adalah hal terberat yang bisa dikerjakan manusia,
Cinta membuat manusia untuk lebih mendahulukan kepentingan pasangannya dibanding kepentingan dirinya sendiri
Cinta membuat manusia untuk berkorban bagi orang yang dikasihinya bahkan dalam beberapa kasus sampai berkorban nyawa
Cinta membuat manusia tersiksa pikirannya karena memikirkan orang terkasihnya
Cinta itu membuat manusia untuk tidak lagi memikirkan AKU tetapi KITA

Konsekuensi yang harus diterima saat orang tak lagi mencinta atau dicinta juga cukup "berat"
Putus cinta sering membuat orang melupakan dirinya sendiri sehingga banyak kasus dimana nyawa dikorbankan
Putus cinta sering membuat orang menjadi "gila"
Putus cinta sering membuat orang menjadi sedih berkepanjangan
Putus cinta sering membuat orang melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dilakukan sepanjang hidupnya

Tapi itulah cinta, kenyataanya setiap manusia tetap saja "mengejar" cinta. Apakah ada di antara kita yang tidak "mengejar" cinta dalam hidupnya ?
Mungkin akan lebih baik kalo cinta tidak dikejar, karena cinta sebenarnya tumbuh di hati setiap manusia, dan cinta akan tumbuh subur jika manusia mau memeliharanya dengan rasa kasih.
Manusia tidak perlu takut dengan konsekuensi cinta karena konsekuensi itu timbul karena ke-AKU-an dari dalam diri manusia sendiri, cobalah melihatnya dengan mata hati dan pikiran yang jernih, bahwa semua hal yang timbul karena ke-AKU-an dan ke-INGIN-an dari dalam diri manusia sendiri, jika hal itu bisa dihilangkan atau paling sedikit di-minimize, betapa manusia akan bisa hidup tanpa kesengsaraan, dan penderitaan lagi.

Lihatlah bahwa sekitar kehidupan manusia juga di "jalankan" oleh cinta, matahari menyinari bumi dengan cintanya, pohon-pohon tumbuh dan berkembang dalam cinta dari bumi, hewan-hewan tumbuh dan berkembang dari cinta tanaman dan pohon di sekitarnya dan manusia juga tumbuh dari cinta alam kepadanya.

Cinta adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada mahluk ciptaanNya, termasuk manusia, dan berbahagialah manusia yang bisa merasakan dan memupuk cinta itu. Karena tak ada yang lebih mulia di dunia ini dibandingkan dengan cinta.

ps : ini gara-gara kepikir masih bulan februari ...jadi temanya masih cinta..;p

Tuesday, February 14, 2006

Berikanlah cinta kepada sesama

Seorang bayi yang sedang dibawa oleh burung bangau untuk diberikan kepada calon ibu bapanya, setelah tiba di suatu tempat sebelum "diturunkan" si bayi itu diberi kesempatan untuk bertanya kepada sang bangau.

bayi : Siapa mereka itu ?
bangau : Mereka adalah calon ibu ayahmu.

bayi : Siapa itu ibu dan siapa itu ayah ?
bangau : ibu adalah orang yang akan melahirkan kamu, dia yang akan menjagamu dari sebelum kamu lahir, dan akan membimbingmu sampai kau bisa hidup tanpa menggantungkan diri lagi kepada orang lain. Dan ayahmu adalah orang yang bertanggungjawab memberi nafkah kepadamu dan kepada ibumu, agar kamu tidak kekurangan dalam materi, dan dia juga akan menjagamu dan ibumu agar tidak ada orang jahat yang dapat mengganggu kalian.

bayi : Siapa itu orang jahat ?
bangau : orang jahat itu ada karena mereka menginginkan segala sesuatunya untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa mau memikirkan apa efek tindakannya kepada orang lain, segala kejahatan itu disebabkan karena keinginan, alangkah bahagia manusia yang tidak mempunyai keinginan, karena dengan tidak mempunyai keinginan maka tidak akan ada kesedihan dan penyesalan dalam hidupnya. Dan yang bersikap jahat itu sebenarnya adalah orang yang sedang sakit, dan jika mereka sudah sembuh maka mereka tidak akan berbuat jahat lagi. Perbuatan jahat ini yang akan menghancurkan semua yang ada dunia, karena mereka adalah iblis-iblis yang bersemayam dalam pikiran dan hati manusia. Iblis-iblis ini tidak pernah tidur, mereka akan selalu menggoda manusia untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh mereka, dan apa yang diinginkan oleh iblis-iblis itu adalah merusak segala yang telah dibuat manusia dan menghapus cinta manusia.

bayi : Mengapa aku harus lahir ke dunia kalau banyak orang jahat yang ada di sekitarku ?
bangau : engkau lahir untuk menyempurnakan kebahagiaan mereka, karena dengan kehadiranmu di tengah-tengah mereka, maka api cinta mereka akan semakin besar dan mereka akan saling menjaga sampai akhir hayat mereka. Dan mereka akan membanjiri kamu dengan cinta itu, sehingga kamu akan hidup dengan cinta di sekelilingmu. Dan tugasmulah untuk memberikan cinta itu ke orang-orang yang ada di sekelilingmu, dan dengan cinta itu semoga orang-orang yang sakit itu akan kembali sembuh. Dengan cintamu yang kau berikan kepada orang-orang yang berada di sekelilingmu itu, akan membuat dunia ini menjadi lebih baik, kau akan menjadi cahaya lilin dalam kegelapan yang menyelimuti dunia. Berjanjilah untuk selalu memberikan cintamu itu kepada orang-orang di sekitarmu.

bayi : Apakah tidak ada orang baik di dunia ini ?
bangau : banyak anakku, tetapi seorang yang baik pun mungkin saja menjadi orang jahat, karena kekurang hatian mereka dalam menyikapi maupun bertindak. Maka dari itu anakku, berikan cinta dalam hatimu kepada mereka, karena mereka membutuhkan itu untuk bisa sembuh dan kembali menjadi orang baik. Sayang percakapan kita harus berakhir, sekarang aku akan memberikan engkau ke pada calon ibumu.

bayi : terima kasih burung bangau.
bangau : terima kasih kembali, dan jangan lupa penuhilah dunia dengan cintamu.

Happy Valentines Day untuk yang merayakannya, bagi yang gak merayakan, gak ada salahnya untuk memberikan cinta kita kepada orang-orang di sekitar kita khan ?

Wednesday, February 08, 2006

Sahabat, jangan kau lepaskan mereka....

Saudaraku, kenapa kau lepaskan setan itu dari penjara pikiranmu ? kenapa tidak kau kunci rapat-rapat mereka ? apa sebabnya kau lepaskan mereka ? Apakah hati kecilmu juga menyetujuinya ?

Lihatlah akibatnya, semuanya hancur, ya semuanya, tak ada yang tersisa. Kasih sayang dan cinta, yang kita bangun dengan cucuran air mata itu, tlah hancur, bagaikan debu yang tertiup angin.

Saudaraku, kenapa kau mudah sekali dikuasai mereka ? kau rusak bangunan-bangunan itu, kau tikam sahabatmu sendiri, kau aniaya saudaramu sendiri, kau caci semua orang, bahkan mungkin orang yang tidak mengetahui dan bersalah kepadamu, kenapa ?

Bukankah kamu, sebagai manusia, selain diberikan otak untuk berpikir secara logis, tapi juga diberikan hati yang suci oleh Nya ? kenapa hanya kau turuti pikiranmu yang sudah dikuasai oleh mereka ? dimana hati nuranimu, dimana mata hatimu ?

Dimana arti perdamaian, cinta dan kasih yang kau teriak-teriakkan, dimana pengetahuan tentang kasih yang selalu kau terima dari para pemuka-pemuka agama, dimana rasa sayang yang dari kecil tlah kau pelajari dari orang tuamu, mana ?

Sahabatku, kenapa tidak kau buka lebar hatimu dengan rasa cinta yang ada di sekeliling kita ? kenapa tidak kau isi pengetahuanmu dengan kasih sayang yang sebenarnya kau tlah tahu bahkan sebelum kau lahir ? sadarlah sahabatku, bahwa setan itu hanya akan membawa kekacauan, hanya akan membawa kemusnahan, dan menjadikanmu manusia yang kotor di hadapanNya, apapun alasanmu.

Sahabatku, kembali kejalan kasih yang diajarkanNya, jangan kau rusak dengan menuruti nafsu itu. Kuncilah setan-setan itu rapat-rapat dan jangan pernah kau lepaskan mereka, agar damai senantiasa beserta kita.

Monday, February 06, 2006

Janganlah kau menangis, anakku

Sudahlah...jangan menangis anakku, kenapa kepergianku harus diiringi dengan isak tangismu ? Aku sudah "bahagia" disini, meninggalkan kefanaan yang ada, meninggalkan kesedihan, kemunafikan, kenaifan, dan segala keburukan yang ada di dunia.

Apa yang kau tangisi, anakku ? bukankah tangismu itu karena engkau mengasihani dirimu sendiri, karena engkau takut tak mempunyai "pegangan" lagi saat aku sudah tak dapat menjawab semua pertanyaanmu, saat aku sudah tak dapat lagi menemanimu dalam semua kondisi yang menyedihkan hatimu, saat kau sudah tak bisa lagi mendengarkan "kicauan burung tua" yang selalu memberikan nasihat kehidupan untukmu, dan bukannya untukku ?

Anakku, bukankah kepergianku ini adalah sebuah tujuan sebuah kehidupan ? bukankah semua orang harus meninggalkan semuanya dan kembali ke Sang Pencipta, untuk mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dilakukannya ?

Anakku, janganlah kau menangisi kepergianku lagi, tataplah hari mendatang, jalanmu masih panjang, masih banyak tugas yang kamu harus selesaikan, ingatlah bahwa hidupmu bukan untuk dirimu sendiri, tapi kamu hidup untuk membuat orang lain menjadi "hidup", dan itu adalah hal yang berat anakku, janganlah engkau berputus asa karenanya, karena jika engkau berhasil melakukannya maka, bukan saja engkau membahagiakan orang itu, tapi engkau juga membahagiakan Penciptamu.

Aku bangga padamu, anakku, kau telah menjadi orang yang sesuai dengan harapanku, seorang anak yang mempunyai hati yang baik, serta mencintai orang tua dan keluarganya. Walau mungkin kau tidak mempunyai materi yang melimpah, tapi aku gembira karena kau berhasil mendidik putramu. Janganlah kau lelah untuk menemaninya, seperti aku telah menemanimu, jangan biarkan dia salah melangkah dan merusak kehidupannya, bimbinglah dia selalu, karena dia adalah rahmat terbesar yang diberikan Tuhan kepadamu.

Anakku, pesanku padamu, jalanilah kehidupan ini dengan bijaksana, janganlah kau salah melangkah dalam kehidupan ini, karena hal itu akan membuat sedih keluargamu. Janganlah kau berpaling dariNya, karena hanya kepada Dialah engkau dapat memohon untuk mendapat bantuan.
Buatlah selalu yang terbaik, untuk keluargamu, orang-orang disekitarmu dan juga untuk Tuhanmu.

"Sebuah renungan atas peristiwa yang terjadi di akhir Januari 2006 lalu"

Tuesday, January 24, 2006

Terima Kasih Tuhan

Istriku menyambutku kepulanganku dengan wajah cemberut, dan langsung menhujani aku dengan pertanyaan "Kenapa sampai basah kuyup seperti ini, khan kamu membawa jas hujan ?". "Iya, lagi males pake jas hujan" jawabku (malas berdebat).

Hujan yang sudah lama turun dengan deras itu tidak menyurutkan niatku untuk kembali ke rumah tanpa menggunakan jas hujan, tak tahu mengapa karena tak ada alasan yang jelas tapi hasrat dalam hatiku yang memberikan keputusan itu.

Udara dingin dengan cepat membungkus tubuh ini, sehingga membuat gigiku saling beradu sekedar tuk menahannya. Jaket yang aku pakai untuk melapis tubuhku tak dapat menahan banyaknya butiran air yang menghampiri seluruh tubuhku, dan bagaikan orang yang sedang mandi, dari atas rambut sampai ujung kaki tak ada bagian tubuhku yang tak basah.
Butiran hujan yang menyapa kulitku bagaikan jarum yang memasukinya, membuatku kulitku sedikit memerah, dan mulutku sedikit meringis ketika merasakan sakitnya. Butirannya yang mengenai mataku cukup mengganggu dan membuatku lebih berhati-hati untuk memperhatikan sekelilingku.

Kabut cukup tebal menyelimuti pandangan dan membuatku harus berhati-hati untuk mengendarai kuda besi ku ini. Bagaikan berjalan dalam kegelapan, karena praktis mata tak dapat melihat terlalu jauh karena terhalang kabut dan juga butiran air yang sangat bagaikan air diguyurkan dari langit itu.

Langit menampakkan kecantikannya dengan memberikan sinar yang terang, walau hanya sebentar, tetapi kemudian diikuti oleh suara yang cukup menakutkan, bagaikan raksasa yang berteriak, suaranya membahana.

Sambil menikmati segala pemandangan itu, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku,"uh, sungguh kecilnya manusia, manusia yang tak berdaya apapun jika dibandingkan dengan alam, dengan diberi kabut dan hujan saja, panca indera utama manusia yaitu mata sudah kehilangan fungsinya." Teringat berita banjir bandang dan banjir lumpur yang menimpa beberapa daerah, "dengan diberi air saja manusia sudah tak dapat berbuat apa-apa, sekuat apapun tenaga yang dimiliki oleh orang itu, dan sehebat apapun ilmunya tak bisa lari dari sergapan air yang sangat banyak itu.", "kenapa manusia harus menyombongkan diri ? kenapa manusia harus menyelakai sesamanya ? apa yang akan disombongkan ? apa yang akan dibuktikan ?".


"Oh Tuhan, terima kasih karena Kau masih beri aku waktu untuk menikmati semua karyaMu, dan terima kasih pula karena dengan karyaMu itu kau sadarkan aku untuk menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang sadar akan keterbatasannya, manusia yang memahami bahwa manusia adalah hanya satu dari segala ciptaanMu. Terima kasih Tuhan, terima kasih. Amin"

Tuesday, January 17, 2006

Ayah...Bunda...Apa Salahku ?

Ayah....Bunda....
Kenapa kau perlakukan aku seperti ini ? Apa salahku ? Bukankah katamu aku adalah malaikat kecilmu ? Bukankah katamu aku adalah pelita kecil dalam kegelapan ?
Sekian waktu tlah kau buang untuk menanti kedatanganku, tetapi kenapa setelah aku datang, kalian malah mengabaikan aku ? kalian malah menyiksaku ? kenapa kalian perlakukan aku lebih hina dari seekor binatang peliharaan ?

Hampir sebagian besar tubuhku berwarna kehitaman, bukan karena terbakar matahari, tapi karena terbakar nafsu amarah kalian, kau tuang minyak tanah ke tubuhku dan kemudian menyalakan api, sehingga tubuhku menjadi hitam seperti ini. Apakah kalian tahu sakitnya ? apakah kalian mau ikut merasakan perihnya ? apakah kalian berpikir efeknya ? Aku tidak yakin bahwa kalian memikirkan dan merasakannya.

Apakah kalian lihat bilur-bilur di kepala, tangan, kaki, dada dan punggungku ? itu semua akibat perbuatan kalian, perbuatan yang dikendalikan oleh nafsu setan kalian. Kalian anggap apakah aku ini ? apakah kalian samakan aku dengan seekor anjing yang bisa kalian pukul, tendang, maupun kalian lempari batu dengan tanpa rasa bersalah ? Pedih, perih, panas, dan nyeri, itu yang aku rasakan, tapi apa yang aku dapat lakukan selain hanya menangis ? sedangkan kalian tetap tak bergeming untuk terus memperlakukan aku seperti itu.

Aku hanyalah anak kecil yang kalian lahirkan ke dunia ini. Anak yang baru berumur beberapa tahun, anak yang masih belum mengetahui apa itu jahat dan apa itu baik, apa itu kebenaran dan apa itu kebohongan, apa itu setan dan apa itu Tuhan, tapi kalian telah siksa aku dengan berbagai macam kekerasan yang aku sedikitpun belum kenal, apa salahku ?
Padahal, kalian tau, aku ini adalah titipan Sang Pencipta pada kalian. Ingat, TITIPAN, bukan pemberian. Kalian dititipi aku, agar aku bisa merasakan apa yang kalian sebut kebahagiaan dunia, agar aku bisa merasakan apa arti kata cinta dan sayang, agar aku bisa merasakan indahnya kehidupan di dunia, tetapi kalian telah merenggutnya lepas, kalian telah menghapus semua.

Ayah....Bunda...
Sekarang aku telah kembali kepada Sang Ilahi, aku tahu bahwa kalian menangis diatas gundukan tanah merahku, tetapi apa gunanya ? betulkah kalian telah menyesal dengan apa yang telah kalian lakukan kepadaku ? apakah kalian benar-benar tidak akan melakukan hal yang sama jika adikku lahir ke dunia ?
Semoga, kalian benar-benar akan mengubah sikap dan tindakan kalian. Disini, aku hanya bisa meminta kepada Sang Maha Pengampun, agar mau mengampuni apa yang telah kalian perbuat kepadaku, biarlah aku menunggu kalian di sisi Allah, disini.


Ditujukan untuk semua anak-anak yang telah disia-siakan oleh orang tuanya, semoga para orang tua lebih bisa menghargai, mencintai dan menyayangi anak-anaknya.

Thursday, January 05, 2006

Kurindu kotamu....

Kurindukan kotamu...
Kota yang memiliki banyak bangunan dengan arsitektur kuno berdiri dengan anggunnya. Kota dimana kapitalisme belum terlalu menyentuh kehidupan. Nuansa budaya masih kental dalam kehidupan penduduknya.

Mbok-mbok nyunggi bakul, menjajakan panganan khas, berjalan kaki nyeker menyusuri jalan raya dan kampung. Panganan khas yang selalu mengingatkan aku saat tak berada disana.
Orang-orang dengan pakaian sederhana yang mengerumuni angkringan sambil njagong dengan kaki yang dinaikkan di kursi sambil nyruput segelas kopi hangat di sore hari. Para musisi yang hidup dari pemberian sedekah di jalan, ditemani dengan selinting rokok hasil karya tangan sendiri, wah nikmatnya.

Suara gamelan mengalun lembut dibelakang hiruk pikuk aktivitas penduduknya, sejuk dan damai dalam jiwa dan pikiran bagi yang mendengarkannya.

Orang-orang yang berlalu-lalang dengan menggunakan dokar sebagai alat transportasi, sebagian yang berjalan menggunakan blangkon, sambil berjalan melenggang, tak tampak tergesa-gesa dan waktu akan selalu menunggu mereka dalam menjalani kehidupan ini, tidak seperti orang yang tinggal di kota besar yang hanya berpikir untuk mengejar waktu. Sikap bersahabat dengan tutur kata yang sangat halus menjadi ciri khas mereka, dimana orang menyapa disitulah sahabat berada, akan damailah dunia jika orang mau menyapa dan membantu orang lain tanpa berpikir balas jasa.

Ketika pagi hari, udara yang dingin terasa sampai menusuk sumsum dan kabut terlihat menyelimuti pandangan, terlihat beberapa kelompok orang, yang sambil menyungging senyum di mulut dan bersenda gurau, nggenjot sepeda kumbang dengan warna yang sudah memudar, saksi riwayat kehidupan pemiliknya.

Pusat pemerintahan yang berdiri dengan megah disudut pusat kota, dengan dinding yang cukup tinggi dan besi-besi yang kuat serta ornamen khas yang menghiasinya, menambah keanggunan. Riwayat mistis memberikan suasana tersendiri bagi yang merasakannya. Para penjaga yang berpakaian abdi dalem resmi terlihat tetap menjalankan tugasnya, walau banyak yang sepuh tapi keceriaan di wajah tak mau kalah dengan semangat yang ada.

Pantai nan indah membentang, pasti banyak cerita terukir. Hikayat legenda hadir di sana, seorang putri cantik yang menjadi penguasa lautan di daerah selatan pulau Jawa. Tak tahu apakah cerita itu benar adanya, yang pasti deru ombak memberikan gambaran betapa manusia adalah manusia lemah dan tak berdaya, yang hanya bisa melakukan kesombongan bagi sesamanya dan dirinya sendiri.

Mendamaikan hati dan jiwa dengan menyaksikan indahnya gunung merapi dan udara yang sejuk yang menyelimutinya. Sungguh hebat Kau Sang Pencipta, menciptakan lukisan sehebat dan seindah ini. Ingin ku melukiskannya dalam pikiran dan jiwaku tuk sekedar menyimpan keindahan itu agar langgeng.

Kapan ku kan bisa kembali ke kotamu ??

Gumregah Merapi anyundhul langit
Padhang mbulan ing candhi Prambanan
Keraton pusering buddhi
Candik ayu ing segara kidul

Tuesday, January 03, 2006

Renungan di Tahun Baru

Suara terompet terdengar nyaring memekakan telinga, dan juga suara kembang api di angkasa yang disulut untuk menyambut tahun baru ini menghiasi angkasa malam dengan warna-warni yang ceria.
Tapi apakah tahun baru ini akan memberikan suasana baru dan kondisi kehidupan yang serba baru juga ?
Masih teringat setahun yang lalu, bagaimana alam memperlihatkan kekuatannya, sebuah kota di ujung utara di porak-porandakannya, semua dihempas oleh gelombang lautan, hanya sedikit yang bertahan, hanya sedikit yang selamat. Kesedihan melanda beribu-ribu manusia di Aceh, gelombang tersebut telah melenyapkan harta benda yang (mungkin) telah mereka kumpulkan bertahun-tahun bahkan mungkin seumur hidup mereka, bahkan yang lebih menyedihkan lagi, banyak anak kehilangan orang tuanya dan orang tua kehilangan anak, banyak kakak kehilangan adiknya dan adik kehilangan kakak, banyak suami kehilangan istri dan istri kehilangan suami, saudara, teman serta orang tersayang. Betapa besar kekuasaan alam dan manusia hanyalah serpihan pasir dari kebesaran alam itu.
Masih teringat betapa kesedihan melanda saat pesawat penumpang itu gagal lepas landas dan jatuh di atas perumahan yang ada, berapa banyak manusia yang tidak tahu menahu harus jadi korban ?
Masih teringat betapa harga bahan kebutuhan hidup yang melonjak naik, karena kenaikan komponen utama dari setiap bahan kebutuhan hidup itu, masyarakat kurang mampu semakin terperosok ke dalam jurang kemiskinan, masyarakat yang hidup pas-pasan harus mengencangkan perut dan mulut, dan masyarakat menengah harus mulai menurunkan standar kehidupannya.
Masih teringat betapa banyak sekali penyakit, flu burung, anthrax, busung lapar yang singgah mengunjungi daerah-daerah di negeri ini, penyakit yang tidak tersangka akan datang mengunjungi dan bahkan menjadi malaikat kematian bagi beberapa orang.
Masih teringat bagaimana berjuta-juta pencari kerja harus berebutan masuk ke area lokasi pameran kerja.
Masih teringat bagaimana beribu-ribu karyawan perusahaan dipecat karena perusahaannya mengaku pailit.

Akankah hal-hal itu akan terulang lagi di tahun ini ? akankah tahun ini akan menjadi tahun kesegaran bagi yang dahaga ? tahun kesuksesan bagi yang gagal ? tahun keselamatan bagi yang terkena bencana ? tahun perdamaian bagi yang sedang berperang ? tahun cinta kasih bagi yang sedang bertikai ?
tak ada yang tau semua itu, hanya Dia yang bisa menjawab itu.
Dan kita sebagai ciptaanNya, apakah punya hak untuk berdiam diri ? apakah punya hak untuk memasrahkan diri pada nasib ? apakah punya hak untuk mengandalkan orang lain yang mengerjakan apa yang sudah jadi kewajiban dirinya ?

Cukup sudah hal-hal buruk yang terjadi pada negara, bumi dan diri. Cukup sudah segala siksa lahir dan batin yang pernah menyapa. Cukup sudah tangis pilu yang pernah terdengar. Cukup sudah sinar kekecewaan yang memancar dari mata.

Semoga di tahun yang baru ini semua yang di cita-citakan bisa tercapai dengan baik. Dan janganlah lupa tuk selalu memohon pada sang kuasa di sana, agar Dia berikan jalan dan restuNya kepada kita semua.

BUAT TEMAN-TEMAN SEMUA, SELAMAT TAHUN BARU 2006